Makassar, Netral.co.id – Dua akademisi asal Makassar, Sulawesi Selatan, menunjukkan kontribusi dalam pengembangan keinsinyuran di tingkat nasional dan regional ASEAN. Keduanya adalah Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. dan dosen senior Teknik Elektro Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) Assoc. Prof. Ir. Sirmayanti, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng.
Kiprah keduanya menjadi gambaran peran perguruan tinggi di Kawasan Timur Indonesia dalam menghubungkan riset, pendidikan vokasi, profesionalisme insinyur, dan standar kompetensi internasional.
Momentum tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Conference of the Federation of Engineering Institutions of Asia and the Pacific (CAFEO) ke-44 di Bandung pada 18–23 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan kalangan keinsinyuran untuk memperkuat kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan profesi di kawasan Asia dan Pasifik.
Jamaluddin Jompa: Riset Harus Berdampak pada Industri
Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang akrab disapa Prof JJ, dikenal sebagai akademisi di bidang ekologi dan biologi kelautan serta anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Ia kembali terpilih memimpin Unhas untuk periode 2026–2030.
Di bawah kepemimpinannya, Unhas terus mendorong internasionalisasi pendidikan dan penguatan riset berkelanjutan, termasuk di bidang kemaritiman yang menjadi salah satu potensi strategis Sulawesi Selatan.
Selain kiprahnya sebagai akademisi dan pimpinan perguruan tinggi, Jamaluddin juga menyandang gelar Insinyur Profesional Utama (IPU) dan ASEAN Engineer. Pengakuan profesional tersebut relevan dengan upaya memperkuat kompetensi insinyur agar selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan standar regional.
Ia menegaskan, pengakuan profesi tidak seharusnya berhenti sebagai pencapaian individual, tetapi perlu diterjemahkan menjadi tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan.
“Bagi saya, gelar ASEAN Eng. dan IPU bukan sekadar titel, tapi tanggung jawab untuk memastikan lulusan teknik Unhas mampu bersaing dan tersertifikasi di tingkat regional. Menjelang CAFEO 44 di Bandung, kita di Unhas sedang mendorong internasionalisasi kurikulum vokasi-profesi agar riset maritim kita tidak hanya berhenti di jurnal, tapi berdampak pada industri,” ujar Jamaluddin saat dihubungi di Makassar, Kamis (23/10).
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menghubungkan penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata sektor industri, sehingga hasil riset dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian.
Sirmayanti: Peran Dosen Vokasi dalam Infrastruktur Digital
Dari PNUP, Assoc. Prof. Ir. Sirmayanti menjadi representasi akademisi vokasi yang aktif dalam pengembangan keahlian telekomunikasi dan jejaring profesional internasional.
Dosen senior Program Studi Teknologi Rekayasa Jaringan Telekomunikasi, Jurusan Teknik Elektro PNUP ini memiliki keahlian di bidang komunikasi nirkabel digital, perencanaan jaringan radio 4G dan 5G, Open Radio Access Network (Open RAN), serta penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada infrastruktur telekomunikasi.
Sirmayanti juga memiliki pengakuan profesional di bidang keinsinyuran, termasuk APEC Engineer dan ASEAN Engineer, serta aktif dalam Badan Kejuruan Teknik Elektro Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Kontribusinya di tingkat regional antara lain terlihat melalui keterlibatannya dalam Global Outreach Series (GOES 2.0) III di Makassar pada Maret 2026. Kegiatan yang berkolaborasi dengan AEI–Electrical Installation Steering Committee (EISC) dan PII itu membahas regulasi infrastruktur digital dan pusat data atau data center di Indonesia.
Bagi Sirmayanti, keterlibatan akademisi vokasi dalam jaringan internasional penting untuk menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan kompetensi, teknologi, dan regulasi.
“Sebagai dosen vokasi perempuan di bidang telekomunikasi, saya ingin membuktikan bahwa politeknik juga bisa menembus jaringan global. Sertifikasi APEC Engineer dan ASEAN Eng. yang saya raih saya gunakan untuk menjembatani kebutuhan industri 5G, Open RAN, dan AI dengan regulasi,” ungkap Sirmayanti.
Ia menambahkan, melalui forum GOES 2.0 III di Makassar, para pemangku kepentingan membahas peta jalan infrastruktur digital dan pusat data yang aman serta memenuhi standar.
“Melalui forum GOES 2.0 III di Makassar kemarin, kita bersama PII dan AEI-EISC berhasil membahas roadmap infrastruktur digital dan data center yang aman dan berstandar,” ujarnya.
Sinergi Kampus Riset dan Pendidikan Vokasi
Kesamaan kompetensi profesional Jamaluddin Jompa dan Sirmayanti, termasuk gelar IPU dan ASEAN Engineer, memperlihatkan peluang sinergi antara perguruan tinggi berbasis riset dan pendidikan vokasi dalam memperkuat ekosistem keinsinyuran.
Unhas memiliki kapasitas riset multidisiplin, termasuk di bidang kemaritiman, sedangkan PNUP mengembangkan pendidikan terapan yang dekat dengan kebutuhan industri. Kolaborasi kedua pendekatan tersebut berpotensi memperkuat pengembangan teknologi, penyiapan sumber daya manusia, serta penerapan inovasi di sektor produktif.
Pengakuan ASEAN Engineer juga berkaitan dengan kerangka pengakuan kompetensi profesional insinyur di kawasan ASEAN. Namun, mobilitas profesional lintas negara tetap mengikuti ketentuan dan persyaratan yang berlaku di masing-masing negara.
Dalam konteks tersebut, CAFEO 44 menjadi salah satu ruang pertemuan penting bagi komunitas keinsinyuran untuk memperluas kerja sama dan membahas tantangan teknologi, industri, serta pengembangan profesi.
Berdasarkan jadwal yang disampaikan penyelenggara, rangkaian CAFEO 44 berlangsung selama enam hari, dari 18 hingga 23 Oktober 2026. Agenda utamanya pada 20–22 Oktober meliputi upacara pembukaan, laporan negara, konferensi keinsinyuran, Women Engineering Summit, Young Engineers Festival, pameran, hingga upacara penutupan.
Rangkaian kegiatan juga mencakup agenda kedatangan delegasi, seminar keinsinyuran, pertemuan organisasi profesi, serta kunjungan dan kegiatan tambahan setelah acara inti.
Kontribusi akademisi dari Unhas dan PNUP menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terletak pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring profesional, mengembangkan standar kompetensi, dan memastikan inovasi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Bagi Sulawesi Selatan, penguatan hubungan antara riset, pendidikan vokasi, dan profesi insinyur menjadi peluang untuk memperluas kontribusi daerah dalam pengembangan teknologi dan industri di tingkat nasional maupun regional.

Comment