Netral.co.id – Geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat (AS). Dalam pidato di Tabriz pada 17 Februari 2026, Khamenei menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal induk AS jika Washington melancarkan serangan militer.
Pernyataan itu merespons sikap Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menegaskan supremasi militer negaranya di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran.
“Kapal perang memang aset militer berbahaya. Namun lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujar Khamenei, sebagaimana dikutip dari laman resminya, Selasa (24/2/2026).
Sorotan terhadap Hubungan 47 Tahun
Dalam pidatonya, Khamenei juga menyinggung hubungan panjang dan tegang antara Teheran dan Washington sejak Revolusi Islam 1979. Ia menyebut bahwa AS, menurutnya, gagal melemahkan Republik Islam Iran selama hampir lima dekade.
Pernyataan tersebut muncul di tengah desakan Washington agar Iran menghentikan program pengayaan uranium dan kembali ke kesepakatan nuklir yang lebih ketat. Pemerintah AS sebelumnya mengisyaratkan opsi tindakan militer terbatas apabila diplomasi tidak membuahkan hasil.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan sipil, termasuk untuk kebutuhan energi dan medis. Teheran juga menyatakan aktivitasnya berada dalam kerangka pengawasan International Atomic Energy Agency (IAEA).
Ketegangan Militer di Kawasan
Di sisi lain, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan beroperasi di wilayah tersebut dan didukung oleh USS Gerald R. Ford, yang dikenal sebagai salah satu kapal induk terbesar milik Angkatan Laut AS.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik, terutama jika salah satu pihak mengambil langkah militer langsung. Iran sebelumnya menyatakan bahwa pangkalan militer AS di kawasan dapat menjadi target jika terjadi serangan terhadap wilayahnya.
Hingga kini, belum ada konfirmasi mengenai langkah diplomatik terbaru dari kedua negara. Komunitas internasional terus memantau perkembangan tersebut, mengingat potensi dampaknya terhadap stabilitas regional dan keamanan global.

Comment