Netral.co.id – Masih lekat dalam ingatan ketika Presiden Barcelona, Joan Laporta, mengeluarkan pernyataan kontroversial pada Maret 2024 lalu. Saat itu, ia memperingatkan bahwa kehadiran Kylian Mbappe di Real Madrid tidak akan membawa berkah, melainkan bencana bagi keharmonisan ruang ganti Los Blancos.
Kala itu, pernyataan Laporta disambut dengan gelombang hinaan dan cibiran dari para Madridista. Ia dituding hanya iri karena tidak mampu memboyong bintang sebesar Mbappe ke Camp Nou. Namun kini, hanya dalam hitungan bulan, ucapan sang Presiden Barca itu justru terbukti menjadi kenyataan yang pahit bagi publik Santiago Bernabeu.
Ruang Ganti Membara: Insiden Fisik dan Petisi Pengusiran Situasi internal Real Madrid saat ini berada di titik nadir. Kabar terbaru menyebutkan adanya bentrokan fisik yang melibatkan Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni. Perselisihan ini bahkan berujung serius hingga Valverde dikabarkan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Ketidakharmonisan ini memicu kemarahan masif dari para pendukung. Sebuah petisi online yang menuntut Kylian Mbappe segera angkat kaki dari Real Madrid telah ditandatangani oleh lebih dari 58 juta fans. Mbappe kini dianggap bukan sebagai solusi, melainkan “racun” yang merusak mentalitas pemenang tim.
Dosa-Dosa Mbappe: Malas dan Minim Empati Kritik tajam terus menghujani kapten Timnas Prancis tersebut. Jurnalis senior Graham Hunter menyoroti perilaku Mbappe yang dianggap malas-malasan di lapangan, sebuah pola perilaku yang juga sempat dikeluhkan di akhir masa baktinya bersama PSG.
Sikap Mbappe di luar lapangan pun semakin memicu api kemarahan. Di tengah keterpurukan tim dan saat dirinya masih dalam masa pemulihan cedera hamstring, Mbappe justru kedapatan asyik berlibur ke Italia bersama pasangannya. Foto-fotonya saat makan malam mewah di atas yacht dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak peka terhadap kondisi klub.
Sindiran dari Internal Klub Ketegangan ini juga dirasakan oleh staf kepelatihan. Alvaro Arbeloa, melalui sindiran tajamnya, menegaskan bahwa sejarah besar Madrid dibangun oleh pemain yang “berkeringat darah”, bukan pemain berbakat yang hanya sekadar “memakai tuksedo”. Meski tidak menyebut nama, publik yakin ucapan ini ditujukan langsung untuk Mbappe yang dinilai minim kontribusi kerja keras.
Menjelang El Clasico yang Kelam Ironisnya, drama perpecahan ini terjadi tepat di ambang laga krusial El Clasico melawan Barcelona. Di saat Barcelona berpeluang mengunci gelar juara La Liga di Camp Nou, Real Madrid justru sedang hancur dari dalam.
Mbappe, yang diharapkan menjadi pembeda, kini justru menjadi sorotan utama sebagai biang kerok ketidakstabilan tim. Ramalan Joan Laporta yang dulu ditertawakan, kini menjadi mimpi buruk nyata yang harus dihadapi oleh Real Madrid di musim ini.

Comment