Pandu Negeri Sesi 3: Rocky Gerung, Hamid Awaluddin hingga Luhur Priyanto Kupas Geopolitik Dunia di Makassar

IMG 6855

Makassar, Netral.co.id — Diskusi geopolitik global hingga posisi Indonesia di tengah rivalitas negara-negara besar menjadi sorotan dalam Pandu Negeri Public Lecture Series #003 yang berlangsung di Ballroom Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar, Sabtu (9/5/2026) siang.

Mengusung tema “Situasi Global dan Arah Politik Negeri: Generasi Muda dalam Konsep To Build The World A New”, kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah serta diikuti ratusan peserta secara langsung maupun virtual.

Hadir dalam forum tersebut Anggota DPR RI Andi Ridwan Wittiri, mantan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Danny Pomanto, Anggota DPRD Sulsel Fadli Ananda, Putra Batara Lantara, Anggota DPRD Makassar Andi Suhada, politisi PDIP Risfayanti Kadir Nyampa, serta Ketua Yayasan Pendidikan Islam Megarezky Makassar Moh Noer Alim Qalby.

Forum Pandu Negeri sebelumnya juga telah digelar di Surabaya dan Yogyakarta.

Salah satu narasumber, pengamat politik Rocky Gerung, menilai Indonesia berpotensi menjadi pusat keamanan global baru di tengah meningkatnya tensi geopolitik kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, rivalitas Jepang, China, dan Amerika Serikat membuat posisi geografis Indonesia semakin strategis dalam percaturan dunia.

Rocky menyebut gagasan itu sebenarnya telah dibaca Presiden pertama RI, Soekarno, sejak lama melalui konsep jembatan Asia-Afrika dan Conference of New Emerging Forces (Conefo).

Ia menilai Bung Karno kala itu ingin menciptakan keseimbangan dunia agar tidak terjadi dominasi tunggal dalam politik internasional.

“Tidak ada lagi satu negara yang benar-benar menjadi hegemoni absolut. Dunia sekarang bergerak dalam situasi yang semakin anarkis,” ujarnya.

Rocky juga menyinggung posisi Iran yang dinilai mampu bertahan menghadapi tekanan global karena memiliki strategi ketahanan yang kuat.

Ia menilai perang modern saat ini bukan lagi sekadar pertarungan ideologi, melainkan telah berubah menjadi proyek ekonomi yang bergantung pada logistik, propaganda, dan kemampuan finansial.

Menurutnya, Amerika Serikat berisiko mengalami tekanan ekonomi serius apabila terus terlibat dalam perang berkepanjangan.

“Perang sekarang soal biaya. Ketika biaya perang tidak lagi mampu ditanggung, maka konflik akan berhenti dengan sendirinya,” katanya.

Sementara itu, praktisi hukum dan diplomat Indonesia Hamid Awaluddin menyoroti rivalitas Amerika Serikat dan China yang disebutnya menjadi akar berbagai konflik global saat ini.

Ia menjelaskan langkah Amerika terhadap Venezuela dan Iran tidak terlepas dari upaya menekan kekuatan industri China melalui jalur pasokan energi.

Menurut Hamid, China saat ini sangat bergantung pada suplai minyak dari Venezuela dan Iran sehingga kedua negara itu menjadi target tekanan geopolitik Amerika Serikat.

“Tujuan utamanya adalah memutus rantai pasokan energi China karena Amerika tidak mampu lagi bersaing secara industri,” jelasnya.

Hamid juga menyinggung pola intervensi Amerika di Iran yang dinilainya memiliki kemiripan dengan peristiwa tahun 1956 saat pemerintahan Mohammad Mosaddegh digulingkan setelah menasionalisasi perusahaan minyak asing.

Ia menyebut masyarakat terdidik Iran kini mulai menyadari pola intervensi tersebut sehingga muncul gelombang perlawanan terhadap pengaruh Amerika dan Israel.

Menurut Hamid, dinamika global itu turut berdampak pada situasi politik dalam negeri Indonesia, terutama munculnya sentimen publik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu dekat dengan Amerika Serikat.

“Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia Kedua, Amerika mulai ditinggalkan oleh sekutunya,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Akademisi Unismuh Andi Luhur Priyanto menilai demokrasi global saat ini mengalami kemunduran.

Ia menyebut banyak pemimpin non-demokratis justru berhasil merebut dan mempertahankan kekuasaan melalui mekanisme demokrasi.

“Harus diakui, demokrasi global sedang melemah. Berdasarkan data, jumlah negara otoriter saat ini meningkat dibanding negara demokratis,” katanya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Forum ini juga menempatkan generasi muda sebagai kelompok penting dalam membaca arah perubahan politik dan tatanan dunia di masa depan.

Comment