banner 10250x250
Memori  

Sejarah Hari Ini ! 1 Januari Pertempuran 5 Hari 5 malam di Palembang

Instagram @anggaleonanda
Instagram @anggaleonanda

Netral.co.id, – Hari ini atau tepatnya 75 tahun yang lalu terjadi insiden peristiwa hebat peperangan selama lima hari lima di Palembang Provinsi Sumatra Selatan.

Upaya Negara Belanda untuk menguasai kembali Indonesia ditempuh dengan cara yaitu aksi militer dengan melakukan pembentukan Negara Boneka mendapat perlawanan Tentara Republik Indonesia (TRI) waktu itu.

Awal insiden terjadi pada 1 Januari 1947 karena Negara Belanda melanggar garis demarkasi di sekitar benteng yang kemudian melakukan penembakan-penembakan.

Pada akhirnya, Negara Indonesiapun mengadakan pembalasan sehingga kota Palembang menjadi panas.

Berdasarkan perundingan dengan badan-badan perjuangan, kemudian diputuskan untuk mencegah Belanda menguasai Palembang harus diadakan serangan langsung kepada pertahanan Belanda antara lain, Rumah Sakit Charitas, Gedung Borsumij, 13 Ilir,  Boombaru, Handelsaken, 28 Ilir, Talangsemut, Baguskuning, Plaju dan Benteng.

Serangan hari pertama dan kedua berjalan baik tapi dalam serangan hari ketiga Belanda telah mengerahkan seluruh kekuatannya baik darat, laut maupun udara. Tembakan gencar dilakukan ke pelbagai penjuru dan rumah-rumah penduduk juga menjadi sasaran. Perimbangan senjata antara pasukan kita dengan Belanda jauh berada di bawah.

Kekuatan kita yang paling ampuh adalah kesadaran nasional yang mendalam dengan satu tekad “Merdeka atau Mati”.

Menjelang hari kelima, pertempuran, setelah kekurangan pasokan logistik dan amunisi, kedua belah pihak mengadakan pertemuan antar pimpinan sipil dan militer mereka yang memutuskan untuk melakukan gencatan senjata.

Indonesia mengirim Dr. Adnan Kapau Gani sebagai utusan dari pemerintah pusat untuk melakukan perundingan dengan pihak Belanda.

Hasil perundingan menyepakati bahwa dari pihak Indonesia, pasukan TRI dan pejuang lainnya akan mundur sejauh 20 km dari pusat kota dan hanya menyisakan ALRI, polisi dan pemerintahan sipil agar tetap berada di Kota Palembang. Sementara dari pihak Belanda, batas pos-pos mereka hanya boleh didirikan sejauh 14 km dari pusat kota. Gencatan senjata tersebut mulai berlaku sejak tanggal 6 Januari 1947.

Akhirnya 5 Januari 1947 ada perintah penghentian tembak menembak dari Panglima Divisi Garuda II Bambang Utoyo dan Gubernur Sumatera Selatan Dr. A.K. Gani. Gencatan senjata pun dilangsungkan pada 6 Januari 1947 mulai pukul 06.00 (pagi). Seluruh pasukan bersenjata diperintahkan mundur sejauh 20 km dari batas kota.