Antrean BBM Bisa Kembali Meledak! KNPI Sulsel Desak Pengawasan SPBU Diperketat

3a3b0243 dcec 4df4 9476 bb00e6f1e0d3

MAKASSAR – Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Selatan meminta pemerintah terus memperketat pengawasan di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) guna mengantisipasi kembali terjadinya antrean panjang BBM bersubsidi di berbagai daerah.

Permintaan tersebut disampaikan Koordinator Bidang I KNPI Sulsel, Hasrul Kaharuddin, menyusul kondisi distribusi BBM di Sulawesi Selatan yang mulai berangsur membaik dalam beberapa waktu terakhir.

Hasrul mengatakan, meski situasi saat ini relatif kondusif, pemerintah tidak boleh lengah.

Menurutnya, antrean panjang berpotensi kembali terjadi apabila pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi tidak dilakukan secara konsisten.

“Jangan sampai setelah kondisi membaik, pengawasan justru kendur. Antrean bisa kembali terjadi jika distribusi BBM subsidi tidak diawasi dengan baik,” ujar Hasrul.

Ia menilai masih maraknya dugaan praktik penimbunan BBM subsidi menjadi salah satu penyebab masyarakat kesulitan mendapatkan solar maupun Pertalite di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.

Karena itu, KNPI Sulsel mendorong pemerintah bersama aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk terus melakukan pengawasan serta penindakan terhadap oknum yang menyalahgunakan BBM subsidi.

Di sisi lain, KNPI Sulsel mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, khususnya Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, dalam menangani persoalan distribusi BBM yang sempat memicu antrean panjang di berbagai SPBU.

“KNPI Sulsel mengapresiasi gerak cepat Bapak Gubernur Andi Sudirman Sulaiman yang turun tangan mengurus persoalan ini sehingga kondisi mulai berangsur membaik,” katanya.

KNPI Sulsel berharap pengawasan terhadap SPBU dan distribusi BBM subsidi dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak kembali mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar bersubsidi.

“Semoga situasi saat ini sudah membaik, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.” tutupnya. (*)

Comment