Direktur Nurani Strategic Apresiasi Appi Atasi Antrean BBM: Komunikasi Lintas Sektor hingga Kebijakan Jitu

3ea10d22 f9d7 4025 abb7 3aa7cb523385

MAKASSAR — Pemerhati publik sekaligus Direktur Nurani Strategic, Dr. Nurmal Idrus, mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, dalam merespons krisis kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Menurut Nurmal, langkah Appi yang membangun komunikasi lintas sektor, menyerap masukan dari masyarakat hingga turun langsung ke lapangan menunjukkan pola kepemimpinan yang adaptif dalam menghadapi situasi yang tidak normal.

“Saya mengapresiasi Bapak Wali Kota Makassar, Pak Appi. Telah banyak mendengar masukan dari bawah untuk mengatasi kesemrawutan Kota Makassar akibat kelangkaan BBM dengan kebijakan WFH dan belajar daring, serta usulan kelonggaran dan kepedulian Pak Wali terhadap ojol,” kata Nurmal, Selasa (15/9/2026).

Ia menilai, antrean BBM yang terjadi di SPBU dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar persoalan antrean kendaraan di SPBU.

Kondisi tersebut, kata dia, telah menjadi stress test bagi Pemerintah Kota Makassar untuk mengukur seberapa cepat pemerintah membaca situasi, mengambil keputusan, dan mengembalikan aktivitas kota ke kondisi normal.

Nurmal menyebut, dampak kebijakan Pemkot Makassar mulai terlihat dalam dua hari terakhir.

Menurutnya, ruas-ruas jalan di Kota Makassar pada Senin dan Selasa mulai lebih lancar dan tidak mengalami kemacetan parah seperti beberapa hari sebelumnya.

“Hari kemarin Senin dan hari ini Selasa, ruas Kota Makassar begitu lancar dan tidak terjadi kemacetan parah seperti biasanya,” jelasnya.

Mantan komisioner KPU Makassar itu berharap kondisi tersebut menjadi tanda positif bahwa situasi mulai terkendali sehingga normalisasi pelayanan publik dan aktivitas pembelajaran dapat segera dilakukan.

“Semoga semua kembali normal sehingga normalisasi layanan publik dan pembelajaran juga kembali normal,” harpanya.

Nurmal menjelaskan, rentetan kebijakan yang diambil Pemkot Makassar patut diapresiasi sebagai bentuk kepemimpinan yang adaptif.
Penerapan Work From Home (WFH) dan pembelajaran daring, misalnya, menurutnya bukan sekadar mengurangi aktivitas perkantoran dan sekolah.

Kebijakan tersebut secara langsung menekan mobilitas warga, mengurangi kepadatan kendaraan di jalan, sekaligus memberi ruang bagi distribusi BBM untuk kembali ditata.
Ia juga melihat perubahan kondisi lalu lintas mulai terasa.

Ruas-ruas jalan, terutama di sekitar SPBU, tidak lagi dipenuhi kendaraan yang berjubel seperti beberapa hari sebelumnya.

“Kalau kita lihat, situasi Kota mulai bernapas,” katanya.

Selain WFH dan pembelajaran daring, Nurmal menilai kebijakan pengisian BBM dengan sistem ganjil-genap serta kehadiran SPBU Mobile menjadi instrumen tambahan untuk memecah konsentrasi antrean dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut dia, situasi krisis membutuhkan pemerintah yang tidak terpaku pada satu pendekatan, apalagi hal tersebut pernah diusulkan Munafri saat bertemu petinggi Pertamina pada Kamis lalu.

“Inilah sesungguhnya yang dibutuhkan dalam menghadapi krisis: pemimpin tidak boleh hanya memiliki satu cara,” terangnya.

Ia mencontohkan, ketika mobilitas menjadi persoalan, mobilitas harus diatur. Ketika antrean terkonsentrasi, pelayanan harus diperluas. Sementara ketika masyarakat mulai panik, pemerintah harus hadir memberikan kepastian.

Meski demikian, Nurmal mengingatkan seluruh kebijakan tersebut tetap harus dievaluasi agar tidak menimbulkan persoalan baru.

WFH dan pembelajaran daring, kata dia, tidak boleh diposisikan sebagai solusi permanen. Sistem ganjil-genap juga harus diterapkan secara adil dan dikomunikasikan dengan baik kepada masyarakat. Begitu pula dengan SPBU Mobile yang harus dipastikan benar-benar efektif dan tepat sasaran.

“Namun dalam situasi krisis, pemerintah tidak boleh menunggu keadaan menjadi sempurna untuk bertindak,” imbuh dia.

Menurut Nurmal, kepemimpinan justru paling terlihat ketika kondisi sedang tidak normal.

“Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan pemimpin yang ketika menghadapi masalah tidak kehabisan cara untuk mencari jalan keluar,” katanya.

Dia menegaskan, krisis BBM di Makassar memang belum sepenuhnya berakhir. Namun, mulai terurainya antrean dan kembali lancarnya pergerakan kendaraan menjadi indikasi bahwa situasi perlahan bergerak menuju kondisi normal.

“Kota Makassar sedang keluar dari chaos, dan kepemimpinan diuji bukan dari banyaknya janji, tetapi dari kemampuan menghadirkan solusi ketika kota sedang membutuhkan,” pungkas Nurmal.

Comment