Ketika Narasi Antagonis Menguasai Ruang Publik

Setiap detik, jutaan jempol bergerak di atas layar gawai. Berita dibaca, video ditonton, opini dibagikan, lalu sebuah kesimpulan lahir sebelum fakta sempat diperiksa.

Didi Muliadin,SH (Pengamat Hukum, Sosial dan Politik NTB). (Foto: Netral.co.id/A. Landa)

Netral.co.id – Setiap detik, jutaan jempol bergerak di atas layar gawai. Berita dibaca, video ditonton, opini dibagikan, lalu sebuah kesimpulan lahir sebelum fakta sempat diperiksa.

Di ruang digital yang seharusnya memperluas pengetahuan, narasi antagonis justru tumbuh subur. Ia tidak datang dengan seragam perang. Ia hadir melalui potongan video, judul provokatif, komentar penuh kemarahan, dan opini yang sengaja membenturkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Narasi semacam ini bekerja dengan cara sederhana: menciptakan musuh.

Dunia dibelah menjadi “kami” dan “mereka”. Yang satu diposisikan sebagai pihak yang selalu benar, sementara yang lain dianggap sebagai sumber segala kesalahan. Persoalan yang sesungguhnya rumit dipaksa menjadi hitam dan putih. Perbedaan pendapat diubah menjadi permusuhan. Kritik digeser menjadi kebencian.

Masalahnya, media sosial menyediakan ruang yang sangat ideal bagi pola semacam itu.

Di sana, sebuah informasi tidak selalu menjadi viral karena benar. Ia bisa menyebar karena membuat orang marah, takut, tersinggung, atau merasa menjadi bagian dari sebuah kelompok. Algoritma kemudian memperkuat apa yang paling sering kita lihat dan sukai. Pada titik tertentu, seseorang dapat hidup dalam ruang informasi yang hanya mengonfirmasi keyakinannya sendiri.

Di sinilah bahaya narasi antagonis bermula.

Ia tidak selalu berangkat dari kebohongan. Kadang-kadang ia menggunakan fakta, tetapi fakta tersebut dipotong dari konteksnya. Sebagian informasi ditonjolkan, sementara bagian lain disembunyikan. Hasil akhirnya bukan lagi pemahaman, melainkan persepsi yang telah diarahkan.

Karena itu, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana membedakan berita benar dan berita palsu. Tantangan yang lebih sulit adalah mengenali bagaimana sebuah narasi membentuk cara kita memandang orang lain.

Mahasiswa dan Kaum Terdidik Harus Menjadi Penjaga Nalar

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa dan kaum terdidik memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Mereka tidak boleh sekadar menjadi kelompok yang paling cepat membagikan informasi atau paling lantang berdebat di media sosial. Pendidikan semestinya memberikan kemampuan untuk berhenti sejenak ketika mayoritas sedang terburu-buru mengambil kesimpulan.

Kaum terdidik harus mampu bertanya: dari mana informasi ini berasal? Apa konteksnya? Siapa yang diuntungkan dari narasi tersebut? Apa fakta yang belum disampaikan? Dan yang tidak kalah penting, apakah kita sedang menilai sebuah persoalan berdasarkan bukti atau sekadar berdasarkan emosi?

Kemampuan untuk mengatakan “saya belum tahu” terkadang jauh lebih intelektual daripada memaksakan sebuah kesimpulan.

Narasi antagonis berkembang karena masyarakat kehilangan kesabaran untuk memeriksa. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia percaya sebelum bertanya dan membagikan sebelum memastikan.

Karena itu, mahasiswa harus mengambil posisi sebagai verifikator, bukan sekadar pengikut opini.

Memeriksa sumber bukan berarti tidak memiliki sikap. Justru sebaliknya, sikap yang lahir dari pemeriksaan fakta jauh lebih bermartabat daripada keberanian yang dibangun di atas informasi setengah matang.

Jangan Jadikan Perbedaan sebagai Alasan untuk Bermusuhan

Bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman. Perbedaan agama, pilihan politik, latar belakang sosial, organisasi, daerah, dan pandangan hidup merupakan kenyataan yang tidak mungkin dihapus.

Namun narasi antagonis selalu berusaha mengubah perbedaan menjadi pertentangan.

Orang yang berbeda pandangan dianggap musuh. Orang yang mengkritik dianggap membenci. Orang yang membela kelompok lain dicap sebagai pengkhianat. Ruang dialog akhirnya menyempit karena setiap orang merasa harus memilih kubu.

Padahal demokrasi tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa kehilangan rasa saling menghormati.

Di sinilah kaum terdidik harus menjadi jembatan.

Mereka harus berani mengatakan bahwa ketidaksetujuan tidak identik dengan permusuhan. Kritik tidak harus berubah menjadi penghinaan. Perbedaan pilihan tidak menghapus persaudaraan sebagai sesama warga negara.

Sikap semacam itu memang tidak selalu populer. Ia tidak selalu menghasilkan banyak tanda suka. Bahkan, dalam ekosistem media sosial, suara yang tenang sering kali kalah cepat dibandingkan suara yang provokatif.

Tetapi kewarasan publik tidak boleh ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak.

Masalah Bangsa Tidak Sesederhana Kolom Komentar

Narasi antagonis juga memiliki satu senjata lain: penyederhanaan.

Ketika terjadi persoalan ekonomi, politik, hukum, pendidikan, atau sosial, masyarakat diarahkan untuk segera mencari satu kambing hitam.

“Semuanya karena kelompok itu.”

“Semuanya karena tokoh itu.”

“Semuanya karena mereka.”

Cara berpikir semacam ini memang mudah dicerna. Tetapi justru karena mudah, ia berbahaya.

Persoalan publik hampir selalu memiliki akar yang kompleks. Ada kebijakan, struktur, kepentingan, sejarah, perilaku, dan banyak faktor lain yang saling berkaitan. Menjelaskannya hanya dengan menunjuk satu kelompok mungkin memuaskan emosi, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Mahasiswa seharusnya berada di garis depan untuk menolak kesederhanaan yang menyesatkan itu.

Tugas intelektual bukan mencari musuh sebanyak-banyaknya. Tugas intelektual adalah menemukan persoalan dengan sebenar-benarnya.

Diamnya Kaum Terdidik Juga Memiliki Konsekuensi

Ada satu persoalan yang sering kali luput dibicarakan: diamnya mereka yang sebenarnya mengetahui.

Ketika kebohongan beredar, orang-orang yang memahami persoalan terkadang memilih tidak bersuara. Ketika fitnah berkembang, mereka merasa tidak perlu ikut campur. Ketika masyarakat mulai terbelah, mereka menganggap itu sekadar dinamika media sosial.

Sikap tersebut dapat menjadi masalah.

Sebab ruang kosong tidak pernah benar-benar kosong. Jika orang yang memiliki pengetahuan memilih diam, ruang itu akan diisi oleh mereka yang lebih berani berbicara—meskipun belum tentu lebih memahami.

Bukan berarti setiap mahasiswa harus menjadi komentator atas semua persoalan. Tidak semua isu harus ditanggapi. Tetapi ketika informasi yang keliru berpotensi menimbulkan kebencian dan perpecahan, kemampuan untuk meluruskan berdasarkan fakta merupakan bagian dari tanggung jawab sosial.

Berpikir Kritis Adalah Bentuk Patriotisme

Patriotisme di era digital tidak selalu harus diwujudkan dengan simbol-simbol besar. Terkadang ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Berpikir sebelum membagikan.

Memahami sebelum menghakimi.

Memeriksa sebelum percaya.

Dan memilih berdialog ketika orang lain mengajak bermusuhan.

Narasi antagonis tidak akan runtuh hanya dengan melawannya menggunakan narasi antagonis yang baru. Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian. Polarisasi tidak akan berakhir jika setiap kelompok hanya sibuk memperkuat temboknya sendiri.

Yang dibutuhkan adalah lebih banyak manusia yang bersedia menjadi penjernih.

Mahasiswa dan kaum terdidik memiliki posisi strategis untuk menjalankan peran itu. Bukan sebagai kelompok yang merasa paling benar, melainkan sebagai kelompok yang bersedia menguji kebenaran sebelum mempercayainya.

Sebab media sosial hanyalah alat. Ia dapat menjadi ruang pendidikan atau ruang permusuhan, tergantung bagaimana manusia menggunakannya.

Pada akhirnya, ancaman terbesar bukanlah ketika masyarakat memiliki perbedaan pendapat. Ancaman terbesar adalah ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk berbeda secara sehat.

Kebencian yang dimulai dari layar dapat menemukan jalannya menuju kehidupan nyata. Sebaliknya, persatuan juga dapat dimulai dari layar yang sama.

Karena itu, melawan narasi antagonis bukan berarti membungkam perbedaan. Justru sebaliknya, ia berarti menjaga agar perbedaan tidak dimanipulasi menjadi kebencian.

Di tengah riuhnya dunia digital, mungkin tugas paling penting kaum terdidik bukan menjadi suara yang paling keras.

Melainkan menjadi suara yang paling jernih.

Yakin Usaha Sampai.

Comment