Mahasiswa Didorong Punya Badan Usaha Sebelum Lulus, Ini Kaitannya dengan Prabowonomics

IMG 2014

Makassar, Netral.co.id — Gagasan Prabowonomics didorong tidak berhenti sebagai istilah ekonomi-politik, tetapi diterjemahkan menjadi ruang tumbuh bagi anak muda untuk membangun kemandirian ekonomi.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Ekonomi Konstitusi; Ruang Tumbuh dan Percepatan Ekonomi Kelompok Muda Kreatif” yang digelar Panji Bangsa Sulsel di Hotel Maxone Makassar, Sabtu (26/9/2026).

Istilah Prabowonomics sendiri belakangan digunakan PKB untuk merangkum tema “Arah Baru Amanat Ekonomi Konstitusi”. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyebut istilah tersebut saat peringatan Harlah ke-28 PKB pada Juli 2026.

Dalam diskusi tersebut, Guru Besar Ekonomi dan Bisnis UIN Alauddin Makassar, Prof Hamzah Khaeryah menekankan pentingnya mempercepat anak muda masuk ke dunia usaha. Menurutnya, mahasiswa yang memiliki talenta kewirausahaan perlu didorong sudah memiliki badan usaha sebelum menyelesaikan pendidikan.

“Yang kedua, kita ingin agar anak-anak muda, terutama mahasiswa yang punya talenta dan ingin menjadi pengusaha, sebelum keluar dari kampus, kita dorong sudah memiliki badan usaha. Sehingga lima tahun setelah menjadi sarjana, mungkin dia sudah punya lima badan usaha,” kata Prof Hamzah.

Ia menilai semakin cepat anak muda masuk ke dunia usaha, semakin besar pula kesempatan mereka mengakselerasi pengalaman dan keilmuan.

“Semakin cepat masuk ke dunia usaha, maka konsentrasi bisa lebih terpusat, dan akomodasi pengalaman serta keilmuan bisa dilakukan secara akseleratif,” ujarnya.

Anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua DPW PKB Sulsel, Syamsu Rizal alias Deng Ical, melihat kemandirian ekonomi tidak cukup dibangun hanya melalui dorongan kewirausahaan. Menurutnya, struktur ekonomi juga perlu diperkuat melalui pengelolaan sumber daya alam, hilirisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan kesempatan usaha.

Deng Ical menyebut sejumlah kebijakan seperti KUR dapat digunakan untuk memperluas kesempatan masyarakat masuk ke dunia bisnis.

“Sehingga mulai dari kita benahi rasio entrepreneur yang masih sangat rendah, dengan berbagai skema KUR yang kita lakukan ini untuk memastikan bahwa banyak orang bisa mulai berbisnis,” katanya.

Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 mengenai pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sementara itu, Ketua Dewan Komando Wilayah (DKW) Panji Bangsa Sulsel, Zulfikar Limonang, menyoroti persoalan lain yang dihadapi kelompok muda, yakni bagaimana mengubah kreativitas menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Ia mengambil contoh anak muda yang mengumpulkan dan memilah sampah setelah sebuah konser. Menurutnya, aktivitas tersebut baru menjadi titik awal jika kemudian mampu dikembangkan menjadi usaha dan menciptakan pasar.

“Bagaimana kreativitas ini muncul menjadi produktivitas? Kreativitas ini berubah menjadi iklim usaha, berubah menjadi pasar, berubah menjadi usaha untuk kemandirian ekonomi anak muda,” kata Zulfikar.

Menurut Zulfikar, pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan Panji Bangsa Sulsel menghadirkan kelompok-kelompok muda dalam diskusi mengenai Prabowonomics.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti di satu kegiatan. Diskusi serupa diharapkan berkembang di kalangan mahasiswa, kelompok pemuda, maupun kelompok masyarakat lainnya.

“Sehingga Prabowonomics ini betul-betul dipahami, betul-betul masyarakat tahu, oh, sebenarnya ini tujuannya. Tujuannya kemandirian,” ujar Anggota DPRD Sulsel itu.

Comment