Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T. Prihatin Ekosistem Riset Berhenti di Prototype atau Uji Lapang

Staf Ahli Kemenko Bidang Pangan sekaligus pakar manajemen inovasi dan hilirisasi riset vokasi, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., yang akrab disapa Mas Sugeng, menyuarakan keprihatinannya terhadap ekosistem penelitian di Indonesia yang dinilai mandek dan berhenti di tahap prototype dan uji lapang.

Rapat pemantapan National Studium Generale – Innovation Expo (NSG-IE) PNUP 2026 yang digelar di Gazebo Kampus 2 PNUP Mongcongloe. (Foto: Netral.co.id/F.R)

Makassar, Netral.co.id – Staf Ahli Kemenko Bidang Pangan sekaligus pakar manajemen inovasi dan hilirisasi riset vokasi, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., yang akrab disapa Mas Sugeng, menyuarakan keprihatinannya terhadap ekosistem penelitian di Indonesia yang dinilai mandek dan berhenti di tahap prototype dan uji lapang.

Keprihatinan itu ia sampaikan di sela-sela rapat pemantapan National Studium Generale – Innovation Expo (NSG-IE) PNUP 2026 yang digelar di Gazebo Kampus 2 PNUP Mongcongloe, Maros, Selasa, 26/10.

“Saya prihatin. Kita ini produktif membuat prototype. Hampir setiap tahun ada 50-100 prototype lahir dari hibah penelitian. Tapi jujur saja, berapa yang jadi produk? Ekosistem kita berhenti di dua titik: berhenti jadi prototype yang dipajang di lab, atau paling jauh berhenti di uji lapang untuk laporan akhir. Setelah itu, masuk gudang,” ungkap Dr. Sugeng Santoso.

Menurut dosen dan peneliti senior yang telah mengawal puluhan produk vokasi hingga ke industri ini, ada fenomena “Valley of Death” atau Jurang Kematian Hilirisasi yang belum terjembatani.

“Antara prototype (TRL 6) ke produk komersial (TRL 9) itu butuh biaya besar. Butuh sertifikasi SNI, butuh desain industri, butuh paten, butuh modal produksi massal. Hibah dosen Rp 70-100 juta tidak akan cukup. Di sinilah banyak peneliti menyerah. Padahal di sanalah dampak riset diuji,” jelasnya.

Ia pun menawarkan 3 solusi konkret yang akan diusung NSG-IE 2026:

  1. Stop Pamer Prototype, Mulai Pamer Produk Dampak.

Expo NSG-IE tahun ini tidak menerima peserta yang hanya membawa prototype. Wajib sudah ada pengguna (user), MoU dengan industri/UMKM, dan sudah ada transaksi.

  1. Kawinkan Hati Peneliti dan Hati Industri.
    Sesuai filosofi Cafe Dua Hati Berkata Jujur, peneliti harus jujur mengakui butuh pasar, industri harus jujur mengakui butuh solusi kampus. NSG-IE menjadi KUA-nya.
  2. Dari Jurnal ke Jurnal Transaksi.
    Sudah saatnya indikator kinerja dosen vokasi tidak hanya SINTA dan Scopus, tapi berapa produknya dipakai masyarakat. Itu esensi Diktisaintek Berdampak.

Comment