Sejarah Tak Hanya Milik Tokoh Besar, Buku Historiografi Rakyat Resmi Hadir

bca65da8 9517 4c1f be27 e3c0a8cc42a9

BONE – Buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh dan Ingatan resmi diluncurkan di Sekretariat PKBM Sulolipu, Sabtu (13/6). Kegiatan ini dihadiri siswa, komunitas budaya, pegiat literasi, komunitas sanggar seni, komunitas vespa, mahasiswa, perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kabupaten Bone, dan pihak Perpusda Bone.

Peluncuran buku tersebut tidak hanya menjadi ajang perkenalan karya, tetapi juga ruang refleksi mengenai pentingnya merawat ingatan kolektif masyarakat yang selama ini kerap terpinggirkan dari narasi sejarah arus utama.

Kegiatan diawali dengan penampilan monolog oleh Suci yang mengangkat tema “Sumur dan kisah perlawanan warga terhadap penggusuran”. Acara kemudian ditutup dengan tarian kontemporer bertema “Perempuan dan sawah” yang dibawakan oleh Wilda dan Ainun.

Pembina PKBM Sulolipu, Subarman Salim, yang membuka kegiatan tersebut mengungkapkan rasa syukurnya karena acara dapat berlangsung dengan lancar.

“Saya bersyukur tidak turun hujan sehingga acara berlangsung dengan baik. Ini barangkali tanda bahwa alam semesta turut menyambut gembira kehadiran buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh dan Ingatan,” ujarnya.

Subarman menjelaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan bagian akhir dari rangkaian kegiatan Workshop Historiografi Rakyat yang telah dilaksanakan pada Desember 2025.

“Peluncuran ini tahapan akhir dari rangkaian kegiatan Workshop Historiografi Rakyat pada Desember 2025 lalu. Meski demikian, bukan berarti kisah Historiografi Rakyat berakhir,” katanya.

Ia berharap peluncuran buku tersebut dapat memperluas ruang dialog mengenai sejarah yang lahir dari masyarakat akar rumput.

“Jadi, kita berharap, peluncuran ini membuka cakrawala pemikiran dan meluasnya ruang diskusi mengenai sejarah yang lahir dari kampung-kampung kecil dan kelompok-kelompok yang selama ini rentan dan termarginalkan,” lanjutnya.

Sementara itu, penulis buku Historiografi Rakyat, Asmar Hidayat, menegaskan bahwa historiografi rakyat merupakan ikhtiar untuk merawat berbagai kisah yang selama ini luput dari perhatian sejarah resmi.

“Historiografi rakyat sebagai upaya kecil dalam merawat beragam kisah dari orang-orang biasa yang tidak memiliki kepentingan struktur, politik dan kelompok,” ujar Asmar.

Menurutnya, sejarah selama ini masih didominasi oleh kisah para pemenang dan kelompok yang memiliki kekuasaan.

“Karena hari ini, sejarah masih berfokus pada narasi besar para pemenang, akan tetapi Historiografi Rakyat memilih jalan alternatif yakni dengan menyusuri kampung-kampung, sawah, sungai, mata air,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa sejarah akan terus hidup selama masyarakat tetap menjaga dan mewariskan ingatan mereka.

“Karena sejarah tidak akan pernah benar-benar hilang selama ingatan masih terawat melalui cerita yang diwarisi secara turun-temurun,” tambahnya.

Salah satu penulis dalam buku tersebut, Maria Ulfa, turut berkontribusi melalui karya fiksi sejarah berjudul Suatu Hari Akan Kubuatkan Pemakaman Untukmu.

Ia mengungkapkan bahwa gagasan penulisan cerita tersebut lahir dari percakapannya dengan seorang siswa yang memiliki latar belakang Tionghoa.

Guru SMAN 1 Bone itu menjelaskan bahwa topik yang dipilih menghadirkan tantangan tersendiri. Pasalnya, peristiwa 1965 dan kaitannya dengan penyingkiran komunitas Tionghoa juga terjadi di Kabupaten Bone.

“Karena alasan itulah, saya memilih menggunakan pendekatan fiksi dalam menuliskan kisah sejarah tersebut,” ungkap Maria.

Linda Maria Dos Santos yang bertindak sebagai penanggap menyampaikan apresiasinya terhadap peluncuran buku tersebut. Dosen UNIM Bone berlatar keilmuan olahraga ini mengaku sangat antusias ketika diminta panitia menjadi penanggap.

“Sebelumnya pada saat seminar Desember 2025 lalu, saya juga telah terpantik dan menyadari bahwa sejarah tidak jauh dari tempat kita lahir, dari tempat kita membangun pengetahuan,” ujarnya.

Karena itu, Linda menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara yang dinilai berhasil menghadirkan ruang belajar baru bagi masyarakat.

“Terima kasih kepada penyelenggara, karena telah menggagas kegiatan Workshop Historiografi Rakyat sehingga meningkatkan gairah literasi di Kabupaten Bone,” katanya.

Sementara itu, moderator kegiatan, Khaerunnisa Tayibu, menilai model penulisan historiografi rakyat menawarkan perspektif baru dalam melihat sejarah.

Menurut dosen STKIP Andi Matappa tersebut, pengalaman pribadi dapat menjadi sumber pengetahuan yang layak dituliskan sebagai bagian dari sejarah masyarakat.

Ia mengaku tertarik terlibat dalam penulisan karena terinspirasi oleh perspektif yang dianggapnya segar dan berbeda.

“Dalam tulisan saya di buku ini, saya mengangkat pengalaman ketika melakukan penelitian di sekolah, kemudian menemukan praktik perundungan yang dilakukan seorang siswa melalui panggilan La Bicce,” ungkapnya.

Peluncuran buku Historiografi Rakyat: Tanah, Tubuh dan Ingatan menjadi penanda bahwa sejarah tidak hanya milik tokoh besar, pun tidak melulu peristiwa monumental. Sejarah juga milik masyarakat biasa yang menyimpan beragam pengalaman, ingatan, dan cerita yang layak dicatat serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Comment