Air Mata Haru Ibu Sukmawati di Wisuda Ranu Harapan: Sekolah Ini Penyelamat Saat Saya Berada di Titik Terendah

IMG 9313

Makassar, Netral.co.id – Suasana haru menyelimuti acara wisuda santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Ranu Harapan Islamic School (RHIS). Berlangsung di Claro Hotel Makassar, Jl. A.P. Pettarani, Jumat, 17 Juli 2026, pagi.

Di antara ratusan orang tua yang hadir dengan senyum bahagia, ada satu sosok ibu yang tak mampu membendung air mata syukurnya. Ia adalah Sukmawati, ibunda dari Najwa S, salah satu wisudawati yang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Bagi Sukmawati, momen kelulusan anaknya bukan sekadar perayaan akademik biasa. Ini adalah bukti nyata keajaiban dan jawaban atas doa-doanya di masa-masa tersulit hidupnya.

Titik Terendah dan Pertolongan Allah SWT

Sambil memandangi putrinya yang mengenakan toga wisuda, Sukmawati mengenang kembali memori beberapa tahun lalu saat ia didera kebingungan hebat mengenai masa depan pendidikan Najwa.

“Sebelum saya kasih masuk anak saya (ke Sekolah Ranu Harapan), saya betul-betul dalam keadaan jatuh. Saya sudah tidak tahu mau bagaimana waktu itu,” ungkap Sukmawati dengan suara bergetar.

Di tengah keputusasaan tersebut, ia dipertemukan dengan Ranu Harapan Islamic School. Kebijakan sekolah yang memihak pada anak yatim menjadi angin segar yang menyelamatkan impian putrinya. Tidak hanya digratiskan dari biaya pendidikan, Najwa bahkan mendapatkan tunjangan bulanan untuk menopang kebutuhannya.

“Saya bersyukur sekali anak saya bisa sekolah di Ranu. Allah SWT mempertemukan saya dengan sekolah ini saat saya benar-benar terpuruk,” tuturnya lirih.

Perubahan Akhlak dan Prestasi yang Nyata

Selama menempuh pendidikan di RHIS, Sukmawati menyaksikan sendiri perubahan besar pada diri Najwa. Pembinaan yang konsisten dari para guru tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas sang anak.

“Pembinaan di sana sangat bagus dan konsisten. Anak saya tambah rajin salat, akhlaknya semakin baik. Guru-guru juga membina dengan sangat baik,” kata Sukmawati bangga.

Ia juga mengaku sangat mengagumi program unggulan sekolah, terutama program tahfiz (menghafal Al-Qur’an) serta penguasaan bahasa asing, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Melihat dampak positif yang luar biasa pada anaknya, Sukmawati tanpa ragu merekomendasikan RHIS kepada para orang tua lainnya.

“Harapan saya ke depan, semoga Ranu Harapan semakin sukses dan banyak disukai oleh masyarakat. Saya sangat merekomendasikan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sini,” harapnya.

Visi Global dan Komitmen Sosial yang Berjalan Beriringan

Kisah Sukmawati dan Najwa adalah potret nyata dari misi sosial yang terus dijaga oleh Ranu Harapan Islamic School. Pembina Yayasan Ranu Prima, Muhammad Ramli Rahim, menegaskan bahwa sekolah berasrama ini memang diproyeksikan untuk menjadi lembaga pendidikan Islam bertaraf internasional, namun tanpa kehilangan kepekaan sosialnya.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sekolah Islam dari Makassar mampu melahirkan generasi berkarakter, menguasai teknologi, dan memiliki daya saing internasional,” ujar Ramli.

Meski bertaraf internasional dan mencetak generasi yang siap bersaing secara global, Ramli memastikan komitmen sosial RHIS sejak awal berdiri tidak akan pernah pudar. Kuota khusus bagi anak yatim dengan beasiswa hingga 100 persen akan tetap dipertahankan. RHIS ingin memastikan bahwa latar belakang ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

“Semangat kami sejak awal tidak berubah, yaitu memberikan kesempatan kepada semua anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Kami ingin setiap anak merasa diterima, dibimbing, dan dicintai sebagai amanah dari Allah SWT,” tutup Muhammad Ramli Rahim.

Comment