Dari Mimpi Sederhana Menjadi Sekolah Unggulan, Ini Kisah RHIS Dibangun Muhammad Ramli Rahim

IMG 9323

Makassar – Di balik berkembangnya Ranu Harapan Islamic School (RHIS) sebagai salah satu sekolah Islam di Makassar, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Berawal dari satu ruang kelas sederhana, Muhammad Ramli Rahim berhasil membangun RHIS hingga menjadi sekolah yang kini dipercaya banyak orang tua untuk mendidik putra-putrinya.

Kisah perjalanan tersebut dibagikan Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Ranu Prima itu saat memberikan sambutan dalam Wisuda Tahfidz Al-Qur’an RHIS 2026 yang berlangsung di Hotel Claro Makassar, Jumat (17/7).

Ramli mengaku tidak pernah memiliki cita-cita mendirikan sekolah. Gagasan itu justru lahir dari keinginannya menghadirkan manfaat yang lebih luas melalui dunia pendidikan.

“Saya waktu itu membuat kalkulasi sederhana tentang nilai kemanfaatan,” ujarnya.

Saat itu ia memiliki sebuah bangunan di Jalan Gagak. Berbekal pengalaman mengelola lembaga bimbingan belajar dan kerja sama dengan Samsung saat menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru Indonesia, ia melihat peluang menghadirkan sekolah dengan fasilitas pembelajaran yang baik meski hanya memiliki satu ruang kelas.

Ia kemudian membandingkan biaya pendidikan anaknya di sekolah swasta dengan biaya mendirikan sekolah sendiri.

“Saya bilang, biaya anak saya kalau sekolah di Atira hampir sama kalau saya bikin sekolah sendiri. Sementara saya bisa mengajak orang lain sekolah bersama anak saya,” katanya.

Keyakinan itulah yang akhirnya mendorong Ramli bersama seorang rekannya, Askar, merintis RHIS. Meski hanya memiliki satu ruang kelas, mereka tetap optimistis membangun sekolah yang berkualitas.

“Ruangan cuma satu, mau bikin sekolah, ya rasanya hanya mimpi,” kenangnya.

Seiring waktu, RHIS terus berkembang. Angkatan pertama berhasil membuktikan kualitas sekolah melalui berbagai capaian alumni. Sebagian diterima di Sekolah Menengah Analis Kimia dan langsung bekerja setelah lulus, sementara lainnya melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan unggulan, Politeknik Pariwisata Negeri Makassar hingga Universitas Hasanuddin.

Ramli mengaku salah satu momen paling membahagiakan adalah ketika bertemu kembali dengan alumninya yang datang menghampiri, menyalami, dan memeluknya.

“Tiba-tiba ada anak muda datang salaman, cium tangan sambil peluk. Dia bilang, ‘Saya Aji, Pak, yang dulu sekolah di RIS’,” tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan para alumni menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh kemewahan fasilitas, melainkan kesungguhan dalam mendidik peserta didik.

“Kalau alumni pertama saja yang fasilitasnya sangat terbatas bisa seperti mereka, InsyaAllah anak-anak yang sekarang belajar dengan fasilitas lebih baik juga bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.

Perjalanan RHIS juga diwarnai berbagai tantangan. Kampus pertama di Jalan Gagak kerap terendam banjir setiap kali hujan deras mengguyur.

“Air masuk ke ruang kelas, sementara pompa air berusaha mengeluarkannya,” kenang Ramli.

Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat yayasan untuk terus berkembang. Hingga akhirnya Yayasan Ranu Prima berhasil membeli sebuah hotel yang kemudian dialihfungsikan menjadi kampus RHIS. Kehadiran kampus baru tersebut menjadi titik penting dalam peningkatan kualitas layanan pendidikan.

Ramli mengatakan sejak awal RHIS dibangun dengan konsep yang memiliki keunikan agar mampu menjadi pilihan utama masyarakat.

“Ketika kita membuat sekolah, kita harus punya perbedaan. Karena diferensiasi itulah yang membuat kita dipilih,” katanya.

Komitmen tersebut kini mulai membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, RHIS selalu menutup penerimaan peserta didik baru lebih awal karena kuota telah terpenuhi sebelum banyak sekolah lain membuka pendaftaran.

Selain fokus pada mutu pendidikan, RHIS juga terus memperkuat kepedulian sosial. Yayasan Ranu Prima memberikan pendidikan gratis bagi anak yatim serta membantu siswa yang mengalami kesulitan biaya transportasi agar tetap dapat bersekolah.

“Jika anak itu anak yatim, tidak usah tanya berapa yang harus dibayar,” tegas Ramli.

Bagi Muhammad Ramli Rahim, RHIS bukan sekadar sekolah. Lembaga pendidikan tersebut dibangun dengan harapan mampu mencetak generasi berkarakter, berprestasi, serta membuka kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Comment