Solusi Ramah Lingkungan, Mahasiswa KKN Internasional Ajarkan Kompos Cair ke Warga

Pemanfaatan sampah organik yang belum optimal masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga Desa Perampuan, Kecamatan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dalam Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN-P3MD) Internasional Inbound Mobility untuk menghadirkan solusi melalui workshop dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos cair. Kegiatan itu berlangsung pada 9 April 2026.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dalam Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN-P3MD) Internasional Inbound Mobility menggelar workshop dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos cair. (Foto: Netral.co.id/M. Nasoha)

Lombok Barat, Netral.co.id – Pemanfaatan sampah organik yang belum optimal masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga Desa Perampuan, Kecamatan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata dalam Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN-P3MD) Internasional Inbound Mobility untuk menghadirkan solusi melalui workshop dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos cair. Kegiatan itu berlangsung pada 9 April 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Narita Amri Rosadi, S.P., M.Si., dosen pertanian Universitas Islam Al-Azhar Mataram (Unizar), sebagai pemateri. Ia menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Menurutnya, kompos cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk meningkatkan kesuburan tanah. “Diharapkan kompos ini bisa diuji coba langsung pada tanaman milik petani di Desa Perampuan. Program ini tidak hanya mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang bernilai guna,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, warga desa dilibatkan secara langsung dalam praktik pembuatan kompos cair menggunakan metode fermentasi anaerob. Metode ini memanfaatkan mikroorganisme seperti EM4 sebagai aktivator dalam proses penguraian bahan organik tanpa melibatkan oksigen.

Proses pembuatan dimulai dengan mencacah sisa sayur dan buah, kemudian mencampurnya dengan air, gula merah, dan EM4. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat dan disimpan di tempat teduh selama 10 hingga 14 hari. Selama proses fermentasi, wadah sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk.

Kompos cair yang dihasilkan ditandai dengan warna coklat keruh dan aroma asam segar. Setelah disaring, cairan tersebut dapat langsung digunakan sebagai pupuk dengan terlebih dahulu diencerkan.

Metode ini dinilai praktis, relatif cepat, dan ramah lingkungan karena mampu mengurangi limbah rumah tangga sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

Sebelum praktik, peserta juga mendapatkan sosialisasi berupa penjelasan dasar terkait teknik pengomposan. Selain itu, dilakukan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman warga terhadap materi yang disampaikan.

Narita menambahkan, kompos cair berpotensi menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan. Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata.

“Kami berharap ini bisa menjadi langkah awal agar desa mampu mengelola sampah organik secara mandiri, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” pungkasnya.

Comment