Iran Peringatkan Risiko Invasi Darat AS di Tengah Eskalasi Konflik

Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menyampaikan peringatan keras terhadap kemungkinan invasi darat Amerika Serikat di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami. (Foto: CNBC)

Teheran/Washington, Netral.co.id – Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menyampaikan peringatan keras terhadap kemungkinan invasi darat Amerika Serikat di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Hatami menegaskan bahwa militer Iran berada dalam kondisi siaga penuh. Ia menyebut seluruh komando operasional telah diperintahkan untuk memantau pergerakan pasukan Amerika Serikat secara intensif.

“Jika terjadi operasi darat, kami akan merespons sesuai dengan strategi militer yang telah disiapkan,” ujarnya, Kamis (2 April 2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai kemungkinan perluasan operasi militer Amerika Serikat. Harian The Washington Post sebelumnya melaporkan bahwa Pentagon tengah mempersiapkan skenario operasi darat, termasuk pengerahan tambahan personel ke kawasan Timur Tengah.

Sejumlah pejabat militer Amerika Serikat disebut menilai langkah tersebut berpotensi membuka fase baru konflik yang lebih kompleks dibandingkan operasi sebelumnya. Beberapa titik strategis yang menjadi perhatian antara lain Pulau Kharg serta kawasan sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Eskalasi konflik ini berakar dari serangan udara yang dilancarkan koalisi Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan ratusan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sejak itu, Iran meningkatkan respons militer melalui peluncuran drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan, termasuk pangkalan militer Amerika Serikat dan wilayah sekutunya. Serangan balasan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak serta memperluas dampak konflik ke negara-negara sekitar.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa opsi militer tetap terbuka, meski jalur diplomasi masih diupayakan.

Konflik yang terus berlanjut ini tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global. Gangguan pada jalur energi, khususnya di kawasan Teluk, turut mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu aktivitas perdagangan internasional.

Pemerintah Iran menegaskan akan mempertahankan kedaulatan wilayahnya, sementara sejumlah pihak internasional menyerukan deeskalasi guna mencegah meluasnya konflik di kawasan.

Comment