Dari Pengasingan, Reza Pahlavi Klaim Republik Islam Berakhir

Putra mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi, menyoroti laporan kematian Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam serangan rudal oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Putra mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi. (Foto: Tempo)

Netral.co.id – Putra mendiang Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, Reza Pahlavi, menyoroti laporan kematian Pimpinan Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam serangan rudal oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Melalui pernyataan di akun media sosial X yang dikutip dari Agence France-Presse (AFP), Minggu (1/3/2026), Pahlavi menyatakan bahwa Republik Islam Iran secara efektif telah berakhir.

“Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah,” tulisnya.

Pahlavi menyebut kematian Khamenei sebagai akhir dari rezim yang menggulingkan ayahnya yang pro-Barat pada 1979. Ia juga memperingatkan agar tidak menunjuk pengganti Khamenei serta menyerukan aparat keamanan untuk tidak lagi menopang pemerintahan yang ada.

“Kepada militer, pasukan keamanan, dan kepolisian, setiap upaya untuk menopang rezim yang runtuh pasti akan gagal,” tulisnya.

Seruan Transisi

Dalam pernyataan lanjutan, Pahlavi mengajak warga Iran untuk tetap waspada dan bersiap menghadapi fase transisi. Ia menyebut momen ini sebagai titik penting bagi masa depan Iran.

“Rakyat Iran yang terhormat dan berani, ini mungkin awal dari perayaan nasional kita yang agung, tetapi ini bukanlah akhir dari perjalanan. Tetap waspada dan siap siaga,” ujarnya.

Ia menilai kematian Khamenei dapat menjadi momentum bagi masyarakat Iran untuk bersatu dan memastikan transisi menuju masa depan yang lebih stabil dan makmur.

Sebelumnya, sejumlah media Iran seperti Tasnim dan Fars News Agency melaporkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan rudal pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Mengutip Al Jazeera, Pemerintah Iran disebut mengumumkan 40 hari berkabung nasional serta tujuh hari libur nasional.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa Khamenei telah tewas, sementara otoritas Iran sebelumnya sempat membantah kabar tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari “perang mental”. Situasi di Iran pun masih berkembang dan menjadi sorotan internasional.

Comment