Gowa, Netral.co.id – Sebanyak 11 murid SD Sanging-Sanging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). HMI Cabang Gowa Raya mendesak pemerintah melakukan investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.
Keluhan yang dialami para murid antara lain mual, sakit perut hingga nyeri ulu hati. Tiga murid sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Pattallassang, sedangkan delapan lainnya mendapat penanganan dari orang tua masing-masing di rumah. Kondisi tiga murid yang sempat dirawat dilaporkan telah membaik.
Penyebab keluhan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan. Pemerintah setempat masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sampel makanan MBG juga telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk diperiksa.
Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat dan Badan Gizi HMI Cabang Gowa Raya, Wahyudi Wahab, meminta pemerintah tidak berhenti pada penanganan terhadap murid yang mengalami keluhan kesehatan.
“Kami meminta pemerintah melakukan investigasi secara menyeluruh. Jangan hanya berhenti pada penanganan anak-anak yang mengalami keluhan, tetapi harus dicari tahu bagaimana proses makanan tersebut diproduksi, diolah, disimpan, hingga didistribusikan ke sekolah,” kata Wahyudi.
Menurutnya, program MBG merupakan program yang menyentuh langsung kesehatan anak sehingga aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama.
“MBG bukan hanya persoalan makanan tersedia dan memenuhi unsur gizi. Yang paling penting adalah makanan tersebut harus aman, higienis dan layak dikonsumsi oleh anak-anak,” tegasnya.
HMI Soroti Sistem Pengawasan
Wahyudi mengatakan kejadian tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi sistem pengawasan MBG di Kabupaten Gowa.
Ia menilai pemeriksaan tidak cukup hanya dilakukan terhadap makanan yang telah dikonsumsi siswa. Pemerintah juga perlu mengevaluasi bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, tenaga pengolah makanan, penyimpanan, pengemasan, distribusi hingga kondisi makanan saat diterima pihak sekolah.
“Kami ingin ada pemeriksaan dari hulu sampai hilir. Mulai dari bahan baku, proses memasak, sanitasi dapur, penyimpanan, pengemasan sampai makanan tiba di sekolah. Semua harus dipastikan memenuhi standar keamanan pangan,” ujarnya.
HMI Cabang Gowa Raya juga meminta hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi disampaikan secara transparan kepada masyarakat.
“Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya persoalan dalam proses penyediaan makanan, maka harus ada tindakan korektif dan pertanggungjawaban sesuai aturan. Jangan sampai persoalan seperti ini terulang dan baru kemudian dilakukan evaluasi,” kata Wahyudi.
Minta Pemerintah Tak Tunggu Korban Berikutnya
Wahyudi menegaskan pihaknya tidak ingin menyimpulkan bahwa MBG menjadi penyebab keluhan kesehatan para murid sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
Namun, menurutnya, munculnya keluhan kesehatan pada sejumlah murid setelah mengonsumsi makanan dalam program yang sama merupakan indikasi yang harus ditelusuri secara serius.
“Kami tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Kami sedang mendorong agar fakta dibuka berdasarkan pemeriksaan dan kajian. Tetapi jangan menunggu korban berikutnya baru sistem diperbaiki,” tegasnya.
HMI Cabang Gowa Raya meminta pemerintah memastikan adanya pengawasan keamanan pangan secara berkala, termasuk mekanisme respons cepat apabila ditemukan keluhan kesehatan dari penerima manfaat MBG.
“Keselamatan anak harus menjadi prioritas. Jangan sampai program yang tujuan awalnya meningkatkan kualitas gizi justru menimbulkan persoalan kesehatan karena lemahnya pengawasan,” pungkas Wahyudi.
HMI Cabang Gowa Raya menyatakan akan terus melakukan kajian dan pengawasan terhadap persoalan kesehatan masyarakat dan pemenuhan gizi di Kabupaten Gowa.

Comment