Dua Arus Utama Berhadapan di Pilrek UNM : Adu Gagasan Versus Klaim Kekuatan

Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Makassar (UNM) Periode 2027-2031 kini memasuki fase krusial. Dengan tujuh bakal calon yang telah resmi mendaftar, kontestasi kepemimpinan Kampus Oranye berada di persimpangan jalan antara idealisme akademik dan realitas politik praktis.

Dr. Muhammad Asdar, Alumni S3 Sosiologi UNM. (Foto: Netral.co.id/F.R)

Makassar, Netral.co.id – Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Makassar (UNM) Periode 2027-2031 kini memasuki fase krusial. Dengan tujuh bakal calon yang telah resmi mendaftar, kontestasi kepemimpinan Kampus Oranye berada di persimpangan jalan antara idealisme akademik dan realitas politik praktis.

Hal tersebut menjadi perhatian serius bagi kalangan akademisi dan alumni UNM. Momentum ini dinilai akan menentukan arah masa depan UNM sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur.

Proses selanjutnya akan memasuki tahapan verifikasi administrasi, pemaparan visi-misi, dan penyaringan menuju tiga besar bakal calon Rektor. Tahapan ini diharapkan berjalan secara demokratis, transparan, dan akuntabel dengan mengedepankan adu gagasan, integritas, serta kapasitas kepemimpinan

Di titik inilah, sivitas akademika berharap tahapan penyaringan menuju tiga besar benar-benar menjadi panggung adu gagasan, kompetisi integritas, dan kapasitas kepemimpinan. Bukan ajang adu kekuatan relasi politik, apalagi pembentukan opini negatif.

Pembentukan opini negatif pada hakikatnya hanya membangun sudut pandang yang buruk, merusak reputasi, dan menciptakan sentimen ketidakpercayaan terhadap individu maupun kelompok tertentu. Praktik seperti ini tidak hanya tidak produktif, tetapi juga kontraproduktif bagi masa depan institusi.

“Kita tidak menginginkan terjadi polarisasi dalam Pilrek UNM yang justru memecah belah ke dalam kelompok-kelompok yang saling berseberangan dan memperbesar rasa curiga,” tegas Dr. Muhammad Asdar, Senin (26/10).

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UNM semestinya menjadi ruang peradaban di mana akal sehat, etika ilmiah, dan keteladanan berjalan beriringan. Sungguh sangat disayangkan apabila energi sivitas akademika justru terserap dalam praktik saling menjatuhkan atau polarisasi semu yang merusak marwah almamater.

Ia menilai, Pilrek UNM yang kini memasuki fase krusial dengan tujuh bakal calon resmi mendaftar, seharusnya menjadi momentum adu gagasan, integritas, dan kapasitas kepemimpinan, bukan ajang adu kekuatan relasi politik.

Dr. Asdar berharap seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni, dapat mengedepankan etika ilmiah dan menjaga suasana kondusif.

“Energi kita seharusnya difokuskan untuk kemajuan UNM, bukan untuk saling menjatuhkan,” pungkasnya.

Di tengah dinamika tersebut, capaian selama satu tahun terakhir di bawah kepemimpinan Plt. Rektor Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., patut menjadi modal utama. Berbagai indikator kinerja dan penguatan tata kelola menunjukkan tren positif dan stabilitas yang terjaga.

“Hal ini menjadi bukti nyata komitmen kepemimpinan dalam membawa UNM tetap berprestasi dan kompetitif di tengah masa transisi,” pungkas Muhammad Asdar.

Comment