Usaha Tak Mengkhianati Hasil
Dari Tamangapa, Makassar Menulis Babak Baru Pengelolaan Sampah Indonesia
Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Tidak semua kemenangan dirayakan dengan pesta. Ada kemenangan yang hanya ditandai oleh sesuatu yang nyaris tak terdengar: hilangnya bau.
Bagi sebagian orang, bau mungkin hanya persoalan indra penciuman. Namun bagi warga yang selama bertahun-tahun hidup di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, bau adalah simbol. Ia melambangkan panjangnya kelalaian, lemahnya tata kelola, dan mahalnya harga yang harus dibayar masyarakat ketika sampah dibiarkan menguasai kota.
Karena itu, ketika Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat berdiri di TPA Tamangapa pada 5 Agustus 2026 dan mengatakan bahwa bau dari timbunan sampah kini telah hilang, sesungguhnya yang sedang ia sampaikan bukan sekadar laporan teknis.
Ia sedang mengumumkan bahwa sebuah kota telah mulai berdamai dengan lingkungannya.
Di hadapan hamparan timbunan sampah yang kini ditutup menggunakan geomembran dan urukan tanah, Menteri Jumhur memberikan apresiasi yang jarang diucapkan kepada sebuah pemerintah daerah.
“Pak Wali Kota sudah bekerja dengan baik. Progresnya sudah mencapai lebih dari 90 persen dari harapan yang kami inginkan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya melampaui birokrasi. Ia adalah pengakuan bahwa perubahan memang mungkin terjadi ketika ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kemauan politik berjalan seiring.
Namun sesungguhnya, penghargaan itu bukan hanya milik Pemerintah Kota Makassar.
Ia adalah penghargaan bagi seluruh warga kota.
Bagi petugas kebersihan yang memulai hari ketika sebagian besar orang masih terlelap.
Bagi operator alat berat yang menata gunungan sampah di bawah terik matahari.
Bagi para penyuluh lingkungan yang mengetuk pintu rumah demi rumah mengajarkan pentingnya memilah sampah.
Bagi camat, lurah, RT, RW, komunitas lingkungan, akademisi, sekolah, pelaku usaha, hingga keluarga-keluarga yang mulai memisahkan sampah organik dari sampah lainnya.
Karena perubahan ekologis tidak pernah lahir dari satu tangan.
Ia selalu merupakan kerja gotong royong sebuah peradaban.
Selama bertahun-tahun, TPA Tamangapa adalah wajah yang enggan dilihat Makassar.
Ia menerima ribuan ton sampah setiap hari. Sampah ditumpuk, menggunung, menghasilkan gas metana dan air lindi yang mengancam lingkungan. Ketika hujan turun, persoalan tidak berhenti di dalam pagar TPA. Dampaknya merambat ke tanah, saluran air, bahkan kehidupan masyarakat sekitar.
Indonesia terlalu lama hidup dengan paradigma kumpul-angkut-buang.
Padahal bumi memiliki batas.
Lahan memiliki daya dukung.
Dan udara mempunyai ambang kesabaran.
Karena itu, kebijakan nasional penghentian praktik open dumping yang mulai diberlakukan sejak 1 Agustus 2026 menjadi titik balik penting dalam sejarah pengelolaan sampah Indonesia.
Makassar memilih tidak menunggu.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, pembenahan dilakukan secara bertahap. Sistem sanitary landfill dan controlled landfill mulai diterapkan. Timbunan sampah ditutup menggunakan geomembran dan tanah. Pengelolaan gas metana diperbaiki. Air lindi dibenahi. Pendampingan teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup dijalankan secara serius.
Hasilnya kini mulai terlihat.
Atau lebih tepatnya, mulai tidak tercium.
Dan terkadang, hilangnya sesuatu justru menjadi bukti paling nyata bahwa perubahan sedang berlangsung.
Dalam filsafat lingkungan, sampah sesungguhnya bukan sekadar benda yang dibuang. Sampah adalah cermin cara manusia memandang alam.
Ketika manusia merasa bumi mampu menelan apa pun tanpa batas, lahirlah gunungan sampah.
Ketika manusia memahami bahwa setiap sisa memiliki nilai, lahirlah ekonomi sirkular.
Di sinilah Makassar sedang belajar mengubah paradigma.
TPA bukan lagi dipandang sebagai kuburan terakhir sampah.
Ia mulai diperlakukan sebagai simpul akhir dari sebuah sistem yang dimulai dari rumah tangga.
Karena sesungguhnya revolusi persampahan tidak dimulai di tempat pembuangan akhir.
Ia dimulai di dapur.
Di meja makan.
Di pasar.
Di sekolah.
Di hotel.
Di restoran.
Di lorong-lorong permukiman.
Setiap kulit buah yang dikomposkan.
Setiap sisa makanan yang diolah menjadi eco-enzyme.
Setiap sampah organik yang masuk biodigester.
Setiap rumah yang mulai memilah sampah.
Semuanya adalah batu bata kecil yang menyusun masa depan kota.
Yang juga menarik perhatian Menteri Jumhur adalah pemanfaatan gas metana.
Selama ini metana dikenal sebagai gas rumah kaca yang memiliki daya rusak terhadap iklim jauh lebih besar dibanding karbon dioksida.
Namun di Tamangapa, gas itu mulai dialirkan ke permukiman warga.
Sebuah paradoks yang indah.
Apa yang dahulu menjadi ancaman kini berubah menjadi manfaat.
Apa yang dahulu dibuang kini menjadi energi.
Inilah inti ekonomi sirkular.
Tidak ada limbah.
Yang ada hanyalah sumber daya yang belum dikelola dengan benar.
Begitulah alam mengajarkan kebijaksanaannya.
Ia tidak mengenal kata sampah.
Yang mengenalnya hanyalah manusia.
Meski demikian, perjalanan belum selesai.
Menteri Jumhur masih memberikan catatan penting mengenai penyempurnaan pengendalian air lindi agar tidak menyebar ketika hujan turun. Dibutuhkan sistem blocking, saluran, dan kolam penampungan yang lebih optimal.
Catatan ini justru memperlihatkan bahwa pemerintah tidak sedang mengejar pencitraan.
Yang dibangun adalah sistem.
Dan sistem selalu disempurnakan.
Sikap Wali Kota Munafri Arifuddin yang menyatakan akan terus mengikuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan karakter kepemimpinan yang adaptif. Tidak merasa selesai hanya karena memperoleh apresiasi.
Karena pemimpin yang baik memahami bahwa pujian bukanlah garis akhir.
Ia hanyalah pengingat untuk bekerja lebih baik lagi.
Makassar sesungguhnya sedang menempuh jalan yang dipilih banyak kota maju di dunia.
Bukan memperbesar TPA.
Tetapi memperkecil jumlah sampah yang masuk ke TPA.
Melalui pemilahan di sumber, pengolahan sampah organik, komposting, biodigester, bank sampah, daur ulang, urban farming, hingga penguatan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Paradigma baru ini jauh lebih manusiawi.
Sebab kota yang sehat bukan hanya kota yang bersih dipandang mata.
Melainkan kota yang mampu menjaga martabat manusia dan kelestarian alam secara bersamaan.
Ada pepatah yang mengatakan, usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Pepatah itu terasa sangat nyata di Tamangapa hari ini.
Bertahun-tahun orang bekerja tanpa sorotan.
Petugas kebersihan tetap menyapu.
Komunitas lingkungan tetap mengedukasi.
Pemerintah tetap membangun sistem.
Warga tetap belajar memilah sampah.
Tidak ada hasil yang lahir secara kebetulan.
Semua adalah buah dari konsistensi.
Apresiasi Menteri Lingkungan Hidup bukanlah hadiah.
Ia adalah konsekuensi logis dari kerja keras.
Dan kerja keras, sebagaimana alam mengajarkan kepada kita, selalu memerlukan waktu sebelum akhirnya berbuah.
Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Pemilahan sampah harus menjadi budaya.
Air lindi harus semakin terkendali.
Gas metana harus dimanfaatkan lebih luas.
TPS3R harus diperkuat.
Komposting rumah tangga harus menjadi gerakan massal.
Ekonomi sirkular harus menjangkau setiap lorong di Makassar.
Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan satu langkah yang berani.
Makassar telah mengambil langkah itu.
Dan hari ini, langkah tersebut memperoleh pengakuan dari negara.
Barangkali, inilah pelajaran terbesar yang dapat dipetik dari Tamangapa.
Bahwa lingkungan tidak pernah meminta manusia melakukan sesuatu yang mustahil.
Alam hanya meminta manusia bertanggung jawab atas apa yang ia hasilkan.
Ketika tanggung jawab itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, bau berubah menjadi udara yang lebih bersih, limbah berubah menjadi energi, sampah berubah menjadi sumber daya, dan pesimisme berubah menjadi harapan.
Dari TPA Tamangapa, Makassar sedang menyampaikan pesan kepada Indonesia bahwa krisis sampah bukanlah takdir yang harus diterima. Ia adalah tantangan yang dapat diatasi melalui ilmu pengetahuan, kepemimpinan yang berani, dan gotong royong masyarakat.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang paling banyak berjanji.
Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang bekerja.
Dan di Tamangapa, kerja itu kini mulai berbuah.
Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.

Comment