Makassar, Netral.co.id — Universitas Hasanuddin (Unhas) tidak hanya menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai penyedia makanan bagi siswa. Kampus terbesar di Indonesia Timur itu menjadikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelolanya sebagai laboratorium riset untuk mendukung pengembangan program MBG secara berkelanjutan.
SPPG Unhas yang beroperasi di kawasan Tamalanrea, Makassar, telah berjalan selama sekitar tiga pekan. Berbeda dengan dapur MBG pada umumnya, fasilitas ini dirancang sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang melibatkan dosen, peneliti, hingga mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “SPPG Unhas: Laboratorium MBG, Gizi Bangsa” yang digelar di Graha Pena Makassar, Kamis (4/6/2026).
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas, Prof. Veny Hadju, menjelaskan bahwa keterlibatan kampus dalam program MBG didasari oleh potensi akademik yang dimiliki Unhas, khususnya di bidang gizi, kesehatan masyarakat, dan ketahanan pangan.
Menurutnya, keberadaan SPPG menjadi ruang pembelajaran sekaligus penelitian yang dapat menghasilkan berbagai rekomendasi ilmiah guna menyempurnakan implementasi program MBG di tingkat nasional.
“SPPG ini bukan hanya tempat menyiapkan makanan, tetapi juga menjadi laboratorium bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk mengembangkan berbagai kajian terkait gizi dan pangan,” ujar Veny.
Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Syahdar Baba, mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya diminta membangun konsep MBG berbasis ekosistem, mulai dari penyediaan bahan baku hingga makanan siap saji diterima siswa.
Ia mengatakan setiap fakultas diberi peran sesuai bidang keahliannya. Fakultas Peternakan, misalnya, bertanggung jawab mengembangkan sumber protein seperti telur dan daging yang memiliki kualitas gizi lebih baik.
Untuk mendukung tujuan tersebut, tim peneliti melakukan berbagai intervensi pada sektor peternakan, termasuk pengembangan pakan dan suplemen guna meningkatkan mutu hasil ternak yang nantinya digunakan dalam program MBG.
“Penelitian yang kami lakukan tidak berhenti di laboratorium. Hasilnya juga diterapkan di tingkat peternak agar menghasilkan produk yang lebih berkualitas,” kata Syahdar.
Selain fokus pada kualitas bahan pangan, Unhas juga mulai mendorong lahirnya inovasi pada aspek distribusi makanan. Berbagai ide pengembangan, termasuk desain kendaraan pengangkut makanan yang lebih efisien hingga penggunaan wadah makan produksi dalam negeri, menjadi bagian dari kajian yang tengah disiapkan.
Menurut Syahdar, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mendorong seluruh fakultas untuk menghadirkan inovasi yang dapat memperkuat ekosistem MBG secara menyeluruh, bukan hanya pada proses memasak makanan.
Di sisi lain, tim SPPG Unhas juga tengah menyiapkan program edukasi gizi bagi para penerima manfaat. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai kandungan nutrisi dalam menu MBG serta manfaatnya bagi pertumbuhan dan kesehatan.
Sebagai bagian dari evaluasi program, Unhas telah melakukan pendataan kondisi fisik siswa, termasuk pengukuran berat badan dan tinggi badan. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menilai dampak program terhadap status gizi peserta didik.
Meski demikian, Veny menilai masih terlalu dini untuk mengukur hasil program secara menyeluruh karena pelaksanaannya belum genap dua bulan. Namun, ia optimistis model ekosistem yang sedang dibangun Unhas dapat menjadi contoh pengembangan MBG berbasis riset dan inovasi di masa mendatang.

Comment