Singapura, Netral.co.id – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar, memaparkan strategi besar transformasi BPOM dalam forum internasional bergengsi di National University of Singapore (NUS).
Dalam kuliah pakar di salah satu kampus terbaik dunia tersebut, Taruna menegaskan bahwa BPOM tengah bergerak menuju sistem pengawasan modern yang adaptif, transparan, dan berstandar global.
Ia menyampaikan, capaian BPOM sebagai otoritas yang diakui melalui status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kredibilitas Indonesia di mata dunia.
“Capaian ini bukan tentang individu, tetapi hasil kerja kolektif seluruh insan BPOM. Ini bukti bahwa integritas dan dedikasi akan mendapat pengakuan global,” ujarnya.
Di hadapan sivitas akademika NUS, Taruna Ikrar membeberkan dua strategi utama transformasi BPOM. Pertama, digitalisasi pengawasan melalui penerapan sistem berbasis teknologi guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan publik.
Kedua, penerapan reliance mechanism, yakni pendekatan percepatan registrasi produk dengan mengacu pada hasil evaluasi regulator internasional yang kredibel. Strategi ini dinilai mampu mempercepat akses masyarakat terhadap obat dan produk kesehatan tanpa mengurangi standar keamanan dan mutu.
“Pendekatan reliance adalah keniscayaan di era global. Kolaborasi antar regulator menjadi kunci untuk menghadirkan akses kesehatan yang lebih cepat dan luas,” jelasnya.
Selain itu, Taruna juga memperkenalkan konsep kolaborasi ABG (Academic, Business, Government) sebagai fondasi penting dalam mendorong inovasi dan kemajuan bangsa. Menurutnya, sinergi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah menjadi kekuatan utama Indonesia untuk bersaing di tingkat global.
Ia turut menyoroti besarnya nilai ekonomi sektor yang berada dalam pengawasan BPOM, mulai dari obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik hingga suplemen kesehatan, yang mencapai sekitar Rp6.000 triliun.
“BPOM tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pilar strategis dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.
Dengan capaian dan strategi transformasi yang terus diperkuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor produk farmasi dan makanan, sekaligus memperkuat posisi sebagai mitra strategis dalam ekosistem kesehatan global.
Kehadiran Taruna Ikrar di forum internasional ini menjadi simbol bahwa Indonesia kian diperhitungkan, bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai kekuatan baru dalam inovasi dan kebijakan kesehatan dunia.

Comment