Bangkok, Netral.co.id – Dampak terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah memaksa pemerintah Thailand mengambil langkah penghematan energi yang ketat. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah mewajibkan pegawai negeri bekerja dari rumah (work from home/WFH).
Kebijakan tersebut diumumkan oleh Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Selasa (10/3/2026).
Sejumlah langkah penghematan diberlakukan secara luas di lingkungan pemerintahan. Di antaranya larangan perjalanan dinas ke luar negeri, pengaturan suhu pendingin ruangan di kisaran 26–27 derajat Celsius, serta imbauan kepada pegawai untuk menggunakan tangga ketimbang lift guna menghemat listrik.
Selain itu, pegawai juga diminta menyesuaikan cara berpakaian dengan mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi agar penggunaan pendingin ruangan bisa ditekan.
Instruksi penghematan juga menyasar penggunaan mesin fotokopi yang harus dibatasi, serta kewajiban mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan.
Negara Lain Ikut Terdampak
Krisis energi ini tidak hanya melanda Thailand. Sejumlah negara Asia Selatan seperti Bangladesh dan Pakistan lebih dahulu menerapkan langkah serupa, termasuk menutup sekolah dan memberlakukan kerja jarak jauh untuk menekan konsumsi energi.
Lonjakan harga energi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari, ketika serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu ketegangan besar di kawasan tersebut.
Dalam konflik tersebut, mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas bersama ribuan korban lainnya.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan drone ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, hingga negara-negara Teluk.
Penutupan Selat Hormuz
Situasi semakin memanas setelah Iran menutup jalur strategis Selat Hormuz sejak 1 Maret. Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari serta sekitar 20 persen pasokan gas alam cair global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan bahwa setiap upaya Iran mengganggu jalur energi global akan memicu respons militer yang jauh lebih keras dari Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (9/3/2026), yang semakin menambah ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasar energi dunia.

Comment