Operasi “Epic Fury”: AS Gempur Iran, Korban Jiwa Bertambah dan Status Perang Dipertanyakan

Amerika Serikat melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu lalu, menyerang sejumlah target di berbagai wilayah negara tersebut dalam operasi yang oleh pemerintahan Presiden Donald Trump disebut sebagai Operasi Epic Fury.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Foto: dok)

Washington, Teheran, Netral.co.idAmerika Serikat melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu lalu, menyerang sejumlah target di berbagai wilayah negara tersebut dalam operasi yang oleh pemerintahan Presiden Donald Trump disebut sebagai Operasi Epic Fury.

Eskalasi ini memicu korban jiwa, meningkatkan ketegangan regional, dan menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Korban Jiwa dan Dampak Awal

Menurut Bulan Sabit Merah Iran, sedikitnya 787 orang dilaporkan tewas di pihak Iran. Salah satu insiden paling mematikan terjadi di Kota Minab, Iran tenggara, ketika serangan menghantam sebuah sekolah dasar putri dan menewaskan sedikitnya 165 siswa.

Di pihak Amerika Serikat, enam warga AS dilaporkan tewas dan 18 personel militer terluka. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut satu proyektil berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menghantam fasilitas militer AS yang diperkuat. Meski lokasi tidak diungkap secara resmi, sejumlah laporan menyebut korban terjadi di Kuwait.

Iran juga melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset militer AS di kawasan Teluk.

Apakah AS dan Iran Kini Berperang?

Secara hukum, Konstitusi AS memberikan kewenangan kepada Kongres untuk menyatakan perang, sementara presiden bertindak sebagai panglima tertinggi. Hingga kini, belum ada deklarasi perang resmi terhadap Iran.

Presiden Trump telah memberi pemberitahuan kepada Kongres dalam waktu 48 jam sebagaimana diatur dalam Resolusi Kekuatan Perang 1973. Ia menyebut ancaman dari Iran telah menjadi “tidak dapat ditolerir”, meskipun Oman yang memediasi pembicaraan AS-Iran menyatakan kedua pihak hampir mencapai kesepakatan diplomatik.

Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mempertanyakan dasar hukum dan urgensi serangan tersebut, serta potensi pelanggaran terhadap Resolusi Kekuatan Perang.

Para analis menyebut perbedaan antara “serangan” dan “perang” kerap ditentukan oleh durasi dan intensitas konflik. Jika operasi berlangsung singkat, publik mungkin melihatnya sebagai serangan terbatas. Namun jika berlanjut berminggu-minggu atau berbulan-bulan, statusnya secara de facto bisa dipandang sebagai perang.

Alasan Serangan: Nuklir dan Pertahanan Preventif

Pemerintahan Trump menyampaikan dua alasan utama di balik operasi militer tersebut:

  1. Menghentikan Program Nuklir Iran
    Trump dan Wakil Presiden JD Vance menyatakan tujuan utama adalah memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Namun, hingga kini pemerintah AS belum mempublikasikan bukti bahwa Iran hampir memiliki bom nuklir. Bahkan, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum menemukan bukti program senjata nuklir aktif di Iran.
  2. Pertahanan Preventif
    Washington menyebut serangan sebagai langkah proaktif untuk melindungi pasukan dan sekutu AS. Namun, tindakan tersebut justru memicu respons militer Iran yang memperluas potensi konflik.

Potensi Keterlibatan Pasukan Darat

Sejauh ini, operasi AS berfokus pada serangan udara. Namun, sejumlah pakar menilai invasi darat akan jauh lebih kompleks dibandingkan operasi militer sebelumnya, termasuk invasi Irak 2003.

Pengalaman di Irak menunjukkan bahwa operasi cepat dapat berubah menjadi konflik berkepanjangan dengan biaya militer dan politik yang besar. Analis memperingatkan bahwa operasi darat di Iran berpotensi lebih mahal dan sulit, baik bagi rakyat Iran maupun prajurit AS.

Berapa Lama Operasi Bisa Bertahan?

Keberlanjutan operasi udara berintensitas tinggi akan bergantung pada tiga faktor utama: kapasitas militer, pendanaan, dan kemauan politik.

Kongres memiliki kewenangan untuk membatasi atau menghentikan operasi melalui resolusi. Namun, dengan mayoritas tipis Partai Republik di kedua majelis, langkah tersebut belum tentu mudah.

Selain itu, persediaan rudal, amunisi presisi, dan sistem pencegat AS tidak tak terbatas. Tanpa produksi berkelanjutan dari kontraktor pertahanan, stok tersebut dapat menipis jika konflik berkepanjangan.

Dengan korban yang terus bertambah dan respons balasan yang meningkat, konflik AS–Iran memasuki fase krusial. Pertanyaan besar kini bukan hanya soal tujuan operasi, tetapi juga apakah eskalasi ini akan berkembang menjadi perang terbuka yang melibatkan kawasan secara lebih luas.

Comment