Pemerhati Lingkungan Apresiasi Wali Kota Appi Tata TPA Tamangapa, Ranch Sapi Disiapkan

a1676819 37e1 4338 ae79 145d99c8d241

MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar, terus membenahi kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang, sebagai bagian dari upaya mengubah pola pengelolaan sampah sekaligus menata keberadaan sapi yang selama ini berkeliaran di sekitar timbunan sampah.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni pembangunan dan penataan ranch atau kawasan peternakan sapi di sekitar TPA.

Fasilitas tersebut diarahkan agar sapi tidak lagi mencari makan di antara timbunan sampah yang berpotensi membahayakan kesehatan hewan maupun keamanan pangan.

Ketua Forum Komunitas Hijau Makassar, Achmad Yusran, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dalam membenahi kawasan TPA Tamangapa.

Menurutnya, penataan TPA yang dibarengi dengan penyiapan ranch menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam melihat persoalan sampah dan keberadaan sapi di kawasan tersebut.

“Ini langkah yang penting, penataan TPA bukan hanya soal bagaimana sampah ditangani, tetapi juga bagaimana kita memastikan tidak ada lagi sapi yang berkeliaran dan memakan sampah campuran,” ujar Achmad, Senin (28/9/2026).

Dia mengatakan, sejak tahun ke tahun berlalu, keberadaan sapi di kawasan TPA Tamangapa bukan sekadar persoalan ternak yang berkeliaran.

Fenomena tersebut selama bertahun-tahun menjadi gambaran bagaimana sampah organik dan anorganik bercampur sebelum akhirnya dikonsumsi oleh hewan.

Padahal, sampah yang berada di timbunan TPA dapat bercampur dengan plastik, logam, bahan kimia maupun material lain yang tidak layak dikonsumsi ternak.

Karena itu, menurut pemerrhati lingkungan itu menyebutkan, keberadaan ranch harus menjadi bagian penting dari pembenahan TPA Tamangapa.

Lanjut dia, Sapi perlu memiliki kawasan yang lebih aman, tertata, memiliki akses air bersih, tempat pakan, sanitasi, drainase, sirkulasi udara serta perlindungan dari panas dan hujan.

“Ranch harus menjadi kawasan peternakan yang layak dan aman bagi ternak,” katanya.

Achmad mengingat kembali kondisi TPA Tamangapa sekitar satu dekade lalu. Ketika itu, sapi dan pemulung terlihat beraktivitas di antara timbunan sampah.

Sapi mencari sisa makanan, sementara pemulung memilah material bernilai ekonomi seperti plastik, aluminium dan besi.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan TPA tidak hanya berkaitan dengan volume sampah, tetapi juga menyangkut kesehatan lingkungan, keselamatan manusia dan kesejahteraan hewan.

“Sapi-sapi itu sebenarnya menjadi korban dari sistem pengelolaan sampah yang belum mampu memisahkan sampah organik dari sampah lainnya sejak dari sumber,” jelas Achmad.

Karena itu, penataan ranch menjadi salah satu upaya untuk memutus kebiasaan sapi mencari makan di timbunan sampah.

“Sekarang, Pemkot Makassar juga mulai mendorong pemanfaatan sampah organik yang telah dipilah dari sumbernya agar tidak seluruhnya berakhir di TPA,” katanya.

Ia menjelaskan, pada Januari 2016, Forum Komunitas Hijau Makassar mencatat kondisi TPA yang memperlihatkan ratusan sapi berada di antara timbunan sampah.

Sapi-sapi tersebut mencari sisa makanan di sela-sela gundukan sampah. Pada waktu yang sama, para pemulung membongkar timbunan untuk mencari material yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, aluminium dan besi.

“Kondisi tersebut membuat kawasan TPA seolah menjadi ruang hidup bersama antara manusia dan ternak,” kenag Yusran.

Ia menggambarkan bahwa bukan hanya truk sampah yang mengantre di kawasan tersebut. Sapi-sapi juga datang sejak pagi hingga sore untuk mencari makan.

Pada 2016, produksi sampah Kota Makassar dilaporkan berada pada kisaran 700–1000 ton per hari. Tidak seluruh sampah terangkut dan terkelola dengan baik sehingga sebagian berakhir menjadi timbunan di TPA Tamangapa.

Menurut Achmad, kondisi tersebut merupakan gambaran persoalan yang lebih besar dalam sistem pengelolaan sampah.

“Sapi-sapi itu bukan sekadar ternak yang tersesat ke TPA. Hewan menjadi bagian dari persoalan ketika sampah organik, plastik, logam dan material lainnya bercampur sejak dari sumber,” tuturnya.

“Sapi tidak dapat membedakan sisa makanan yang aman dengan material yang berbahaya,” lanjutnya.

Kondisi itu, Kat adia berubah pada September 2026, sampah organik dari sekitar 14 pasar yang dikelola Perumda Pasar Makassar Raya dilaporkan dikumpulkan dan diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Volume yang sebelumnya berada pada kisaran 3–4 ton per hari disebut meningkat hingga mendekati 31 ton per hari setelah mendapat dukungan dari pemerintah kecamatan.

Menurutnya, bahan tersebut harus benar-benar melalui proses pemilahan dan pengawasan untuk memastikan terbebas dari plastik, kaca, logam, bahan kimia maupun material berbahaya lainnya.

“Pemilahan harus menjadi sistem kendali mutu,” ujarnya.

Menurut Achmad, penataan sapi dan pembangunan ranch harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah di TPA Tamangapa.

Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengolahan sampah organik, pengurangan residu hingga pengangkutan harus menjadi satu kesatuan.

Ia mengapresiasi langkah Pemkot Makassar yang mulai mengarahkan sampah organik dari pasar untuk dimanfaatkan kembali.

Namun, ia mengingatkan agar program tersebut tidak berhenti pada capaian tonase.

“Ukurannya adalah apakah sapi benar-benar tidak lagi memakan sampah campuran, dan apakah volume sampah yang masuk ke TPA terus berkurang,” katanya.

Forum Komunitas Hijau Makassar, lanjutnya, siap berkolaborasi dalam memperkuat sistem tersebut, terutama dalam pemetaan sumber sampah organik, edukasi pemilahan serta pengawasan lingkungan.

Pemetaan dapat dilakukan mulai dari pasar, restoran, hotel, rumah makan, pusat kuliner hingga kawasan permukiman.

Data tersebut penting untuk mengetahui volume sampah organik, tingkat kontaminasi, pola pengumpulan serta potensi keberlanjutan pasokan.

Masyarakat dan komunitas lingkungan juga dapat dilibatkan dalam pengawasan terhadap kondisi ranch maupun kawasan TPA.

Mereka dapat menjadi bagian dari sistem pelaporan apabila masih ditemukan sapi yang berkeliaran di kawasan timbunan, pagar rusak, pasokan pakan tidak mencukupi maupun praktik pemilahan yang tidak aman.

“Perubahan tidak lahir dari satu keputusan besar. Ia lahir dari banyak aksi lokal yang dilakukan secara konsisten,” demikian Achmad.

Penataan TPA Tamangapa dan penyiapan ranch sapi diharapkan menjadi bagian dari perubahan wajah pengelolaan sampah Kota Makassar—dari sekadar membuang sampah menuju sistem yang lebih tertata, aman dan berkelanjutan.

Ia berharap pembenahan TPA Tamangapa menjadi momentum untuk mengakhiri pemandangan sapi yang mencari makan di antara gunungan sampah.

“Sapi tidak seharusnya mencari makan di antara limbah, dan manusia juga tidak seharusnya mempertaruhkan keselamatan demi mengais barang bernilai dari timbunan sampah,” pungkasnya.

Comment