Dari Sumur Bor hingga Mesin Berbasis HP, Sidrap Dorong Inovasi Pertanian

IMG 0296

Netral.co.id – Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus memperkuat sektor pertanian dengan mendorong Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, menjadi salah satu sentra pertanian unggulan.

Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, saat menghadiri Panen Raya Musim Tanam (MT) II sekaligus persiapan olah lahan menuju program Intensifikasi Pertanaman (IP) 300, Jumat (7/8/2026).

Dalam kegiatan itu, Syaharuddin didampingi Anggota DPRD Sidrap Dapil IV Kasman dan Kartini Bekka, Kepala Dinas PSDA Andi Safari Renata, Kepala Pelaksana BPBD Patriadi, Plt Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Andi Gustianti, perwakilan Bank Sulselbar, serta jajaran pemerintah kecamatan dan desa.

Turut hadir Camat Pitu Riase Andi Mukti Ali, Kapolsek Pitu Riase Iptu Sakaria, jajaran Dinas Pertanian Sidrap, kepala desa dan lurah se-Kecamatan Pitu Riase, kepala sekolah, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta undangan lainnya.

Syaharuddin mengatakan Desa Botto menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus pemerintah daerah.

Selama setahun terakhir, sebanyak 28 kelompok tani menerima berbagai bantuan, termasuk 14 kelompok melalui program optimalisasi lahan (oplah) nonrawa.

Untuk mengatasi persoalan ketersediaan air, Pemkab Sidrap akan menyalurkan bantuan sumur bor listrik kepada kelompok tani. Setiap kelompok direncanakan menerima tiga unit sumur bor agar lahan pertanian tetap produktif saat musim kemarau.

“Ke depan tidak ada lagi sawah yang kekurangan air. Pertanian kita akan semakin modern. Petani cukup mengoperasikan mesin menggunakan handphone dengan sistem voucher,” kata Syaharuddin.

Ia menjelaskan, program cetak sawah seluas 78 hektare yang dimulai pada 2025 belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena terkendala pasokan air.

Pemerintah akan melengkapi kawasan tersebut dengan sumur bor dan jaringan listrik sepanjang sekitar satu kilometer.

Pada 2026, Pemkab Sidrap kembali melanjutkan program cetak sawah seluas 79 hektare di wilayah Toddang Asa.

Selain itu, pemerintah juga mendorong rehabilitasi sawah dengan mengajak petani melaporkan lahan yang tidak lagi produktif agar dapat difungsikan kembali.

Menjelang panen, hasil ubinan di Desa Botto menunjukkan potensi produktivitas mencapai 9,5 ton gabah per hektare. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan produksi pangan daerah.

Sebagai persiapan menuju program IP300 atau tiga kali tanam dalam setahun, empat kelompok tani di Desa Botto menerima bantuan rotavator melalui Program PM-AAS guna mempercepat pengolahan lahan.

Syaharuddin juga mendorong penguatan kelembagaan petani melalui pemekaran kelompok tani.

Dari 27 kelompok tani yang ada, sebanyak 12 kelompok dinilai layak dimekarkan karena mengelola lahan lebih dari 25 hektare, bahkan ada yang mencapai 81 hektare.

“Pertanian harus menjadi jalan utama meningkatkan kesejahteraan warga Sidrap. Dengan infrastruktur yang baik, air tersedia, alat pertanian modern, dan kelembagaan petani yang kuat, saya optimistis Pitu Riase akan semakin maju dan menjadi lumbung pangan yang lebih produktif,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Syaharuddin juga menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima Kabupaten Sidrap dari pemerintah pusat sebagai salah satu daerah terbaik di Pulau Sulawesi.

Penghargaan tersebut disertai bantuan Rp3 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Pallae dan Bola Bulu, Kecamatan Pitu Riase.

Menurutnya, pembangunan di Kecamatan Pitu Riase akan terus menjadi prioritas pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Perbaikan infrastruktur jalan terus kita genjot, termasuk di Bila Riase, Barukku, Lombo, Compong, Dengenge-Dengeng hingga Buntu Buangin,” katanya.

Syaharuddin menambahkan, saat awal masa kepemimpinannya terdapat sekitar 955 kilometer jalan dalam kondisi rusak.

Hingga kini, pemerintah telah memperbaiki sekitar 372 kilometer di antaranya.

“Jalan yang baik akan memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Selain pembangunan infrastruktur, Pemkab Sidrap juga mengembangkan desa tematik agar setiap wilayah memiliki potensi unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Camat Pitu Riase Andi Mukti Ali melaporkan hamparan sawah di lokasi panen memiliki luas sekitar 508 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 50 hektare dipanen pada kegiatan Panen Raya MT II.

“Ini bukti bahwa dengan kerja keras bersama, lahan yang luas ini tetap produktif,” katanya.

Ia menjelaskan, persiapan menuju IP300 juga telah dilakukan pada lahan seluas 40 hektare. Program tersebut diharapkan menjadi percontohan bagi seluruh kawasan sawah irigasi di wilayah itu.

“Hamparan ini adalah sawah irigasi. Airnya ada, lahannya siap. Tinggal bagaimana kita bersama-sama mengoptimalkan menjadi tiga kali tanam dalam setahun,” ujarnya.

Menurut Andi Mukti Ali, penerapan IP300 diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, sekaligus memperkuat kontribusi Kabupaten Sidrap terhadap ketahanan pangan nasional.

Kepala Desa Botto, Jumardin, mengapresiasi kehadiran Bupati Sidrap beserta jajaran dalam kegiatan panen raya tersebut.

“Kehadiran Bapak Bupati menjadi penyemangat bagi kami para petani di Desa Botto untuk terus bekerja, merawat sawah, dan meningkatkan hasil panen,” tuturnya.

Comment