Dari Jepang ke Manggala: Inspirasi Bangun Kawasan Bersih dan Zero Waste

b7516dc1 4c12 4f25 a9f8 56e2978ea385

Makassar, Netral.co.id — Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan, warga Cluster Berlian Permai (CBP), RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, memilih mengambil langkah berbeda. Berawal dari keresahan terhadap persoalan sampah, mereka kini membangun gerakan kolektif menuju kawasan bersih, sehat, dan berkonsep zero waste.

Gerakan tersebut lahir dari salah satu visi Ketua RT 4 RW 7 Cluster Berlian Permai, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie, yang ingin menghadirkan lingkungan permukiman yang nyaman, tertata, sehat, bahkan bebas rokok. Inspirasi itu muncul dari pengalaman yang ia dapat selama menempuh pendidikan di Jepang, di mana budaya hidup bersih, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari semangat tersebut kemudian lahir Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi yang kini berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus motor perubahan di kawasan tersebut.

Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, mengatakan perjalanan itu berawal dari kesadaran warga bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari rumah tangga melalui pembentukan perilaku dan budaya baru.

“Karena kami melihat persoalan sampah harus diselesaikan dari sumbernya. Dari situ kami mulai bergerak melalui berbagai kegiatan lingkungan hingga akhirnya fokus mengembangkan Bank Sampah,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Menurut Andi Nirma, perubahan sistem pengelolaan dan pengangkutan sampah yang mulai dirasakan warga sejak awal 2025 menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif. Dari situlah lahir gagasan menjadikan BSU Nurul Ilmi bukan hanya tempat pengumpulan sampah bernilai ekonomi, tetapi juga pusat edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Gerakan tersebut kemudian dikembangkan menjadi bagian dari konsep kawasan ramah lingkungan yang terintegrasi dengan pengembangan Masjid Peduli Lingkungan. Program dan aktivitas kemasyarakatan diarahkan untuk memperkuat praktik pelestarian lingkungan, termasuk melalui gagasan zakat hijau.

Berbagai program pun disusun secara bertahap melalui roadmap bulanan dan tahunan yang berfokus pada edukasi, perubahan perilaku, pemilahan sampah dari rumah tangga, pengolahan sampah organik, hingga pengembangan aktivitas berbasis lingkungan.

Saat ini, salah satu fokus utama adalah memastikan seluruh warga mampu melakukan pemilahan sampah secara mandiri dan konsisten dari rumah masing-masing.

“Progresnya bertahap. Kami ingin semua warga mendapat pendampingan agar mampu memilah sampah sejak dari rumah,” jelas Andi Nirma.

Perjalanan BSU Nurul Ilmi juga berkembang melalui dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kelurahan, kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2), komunitas lingkungan, hingga pihak pengembang perumahan dan tokoh masyarakat yang ikut memberikan pendampingan serta dukungan fasilitas.

Salah satu pengembangan terbaru adalah pembangunan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos yang terintegrasi dengan kebun PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT). Konsep ini menjadi bagian dari penguatan urban farming yang tengah dikembangkan warga.

Kompos yang dihasilkan nantinya akan dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertanian perkotaan di lingkungan tersebut, menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.

Menurut Andi Nirma, tujuan besar dari gerakan ini bukan sekadar menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi membangun budaya masyarakat yang peduli terhadap pengelolaan sampah dan lingkungan.

“Kami ingin membuktikan bahwa lingkungan bersih bukan karena membayar petugas kebersihan lebih banyak, tetapi karena masyarakatnya memiliki kesadaran dan budaya hidup bersih,” tutupnya. (*)

Comment