Netral.co.id – Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah serangan udara gabungan AS–Israel yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran. Operasi militer tersebut menandai fase permusuhan terbuka, dengan Presiden AS Donald Trump mengindikasikan kampanye dapat berlangsung selama empat hingga lima minggu.
Laporan ini pertama kali dipublikasikan oleh Al Jazeera pada 3 Maret 2026.
Apa Itu Operasi Epic Fury?
Pada 28 Februari, Trump mengonfirmasi melalui video di platform Truth Social bahwa AS terlibat dalam “operasi tempur besar” di dalam wilayah Iran. Pentagon kemudian menyatakan misi tersebut diberi nama Operasi Epic Fury.
Trump menyebut tujuan operasi adalah “memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir”. Ia juga menegaskan bahwa fasilitas dan industri rudal Iran menjadi sasaran utama.
Komando Pusat Militer AS, United States Central Command (CENTCOM), menyatakan lebih dari 1.000 target telah dihantam sejak operasi dimulai. Dalam pernyataan terpisah, CENTCOM juga menyebut 11 kapal Iran telah dihancurkan.
Operasi ini dilaporkan melibatkan kombinasi serangan udara, rudal jelajah berbasis laut, serta serangan terkoordinasi terhadap fasilitas yang dikaitkan dengan program nuklir dan institusi pertahanan Iran.
Di sisi lain, otoritas Iran melaporkan ratusan korban jiwa dan kerusakan di berbagai wilayah. Situasi di lapangan masih berkembang dan klaim dari masing-masing pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Berapa Biaya yang Ditanggung AS?
Pertanyaan besar berikutnya adalah soal biaya perang.
Berdasarkan laporan Costs of War 2025 dari Brown University, sejak 7 Oktober 2023 AS telah mengucurkan sekitar 21,7 miliar dolar AS dalam bentuk bantuan militer kepada Israel.
Selain itu, pembayar pajak Amerika juga membiayai operasi militer AS di Yaman, Iran, dan kawasan Timur Tengah lainnya dengan estimasi antara 9,65 miliar hingga 12,07 miliar dolar AS.
Dengan demikian, total pengeluaran terkait konflik di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 31,35 miliar hingga 33,77 miliar dolar AS dan angka itu terus bertambah seiring berlanjutnya operasi.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada pembiayaan, tetapi juga pada keberlanjutan logistik dan persediaan persenjataan jika konflik berlangsung lama.
Sistem Persenjataan yang Digunakan
Menurut CENTCOM, Operasi Epic Fury melibatkan lebih dari 20 sistem senjata dari matra udara, laut, dan darat.
Beberapa di antaranya meliputi:
Kekuatan Udara
- Pesawat pembom siluman B-2
- F-35 Lightning II dan F-22 Raptor
- F-15, F-16, F/A-18 Super Hornet
- EA-18G Growler untuk peperangan elektronik
- Pesawat peringatan dini (AWACS)
Drone dan Serangan Jarak Jauh
- MQ-9 Reaper
- Drone LUCAS (penggunaan tempur perdana)
- Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS)
- Rudal jelajah Tomahawk
Pertahanan Rudal
- Sistem Patriot
- THAAD (Terminal High Altitude Area Defense)
- Sistem anti-drone
Proyeksi Kekuatan Laut
- Dua kelompok serang kapal induk yang dipimpin USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln
- Pesawat patroli maritim P-8 Poseidon
- Pesawat logistik C-17 dan C-130
Tantangan Strategis
Trump menyatakan operasi akan berlanjut selama diperlukan. Namun, para pengamat menilai keberlanjutan konflik akan sangat bergantung pada kalkulasi politik domestik di Washington, stabilitas kawasan, serta respons balasan dari Iran dan sekutunya.
Selain persoalan biaya finansial, perang berkepanjjangan juga berpotensi menimbulkan konsekuensi geopolitik luas, termasuk gangguan energi global dan eskalasi di kawasan Teluk.
Dengan skala operasi yang telah dikerahkan, pertanyaan yang kini mengemuka bukan hanya berapa lama perang ini akan berlangsung, tetapi juga seberapa besar biaya ekonomi, militer, dan politik yang harus ditanggung Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Comment