Panorama terindah dapat dinikmati mulai dari puncak gunung sampai ke dasar laut. diseluruh nusantara. Tetapi apa yang terjadi? Aset bangsa dieksploitasi segelintir perampok. Kayu, minyak, gas, pasir, emas; diangkut ke luar.
Sementara rakyatnya tidak terdidik dan mengalami busung lapar. Kemiskinan penduduk diseputar blok gas Arun Exxon Mobil di ujung barat Indonesia, sampai ketelanjangan warga di sekeliling blok emas Freeport di ujung timur Indonesia, adalah potret marginalisasi keterjajahan bangsa.
Dari Sabang sampai Merauke, berjajar penguras kekayaan alam. Banyak negara yang terbatas sumberdaya alamnya, tetapi karena pemimpinnya handal, berhasil mencapai kemakmuran.
Sebaliknya, banyak negara yang kaya kandungan alam, tetapi pemimpinnya idiot maka selamanya stagnant. Rakyatnya dibiarkan hidup dalam keterbelakangan. Sehingga sebagian penduduknya merasa bahwa inilah model kehidupan yang normal, karena seumur hidup mereka tidak pernah mengetahui dan tidak pernah diberitau akan hak-haknya.
Pemimpin yang jahil dan rakyat yang terbodohkan menyebabkan sebuah bangsa. tidak pernah melihat masa depan. Kualitas Pemimpin dan Rakyat. Adalah sumberdaya insani, kualitas pemimpin dan rakyatnya, yang menjadi kunci kemajuan sebuah bangsa.
Sebuah negara akan maju; apapun kondisi geografis, geologis, demografis dan sistem pemerintahannya, selama memiliki dua hal. Pertama, pemimpinnya harus visioner (memiliki pengetahuan), memiliki kepedulian dan keberanian mental untuk membawa perubahan mendasar bagi bangsanya.
Keberadaan pemimpin seperti ini sangat sentral bagi sebuah bangsa. Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Pemimpin yang adil meskipun kafir, lebih baik daripada pemimpin yang beragama Islam tapi dhalim.”
Adil merupakan salah satu nilai universal yang menjadi penentu kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa. Pada konsepsi adil ini terkandung visi, rasa peduli dan mentalitas untuk semakin hari semakin baik (ihsan).
Praktik-praktik pemerintahan dan kemasyarakatan yang berlandaskan prinsip-prinsip keadilan menjadi salah satu ukuran islami tidaknya sebuah negara. Disebutkan: “Bersikap Adillah, karena itu lebih dekat kepada Taqwa…” (QS. Al-Maidah 5: 8).
Kedua, rakyat harus berkualitas. Manusia manusia berkualitas memilik perencanaan hidup, disiplin diri yang tinggi, serta punya strategi dan taktik perjuangan untuk memajukan diri dan bangsanya.
Rakyat yang cerdas akan mampu menguasai, mengatur dan memanfaatkan alam secara ekonomis, efisien dan efektif. Bukan sebaliknya; boros, dikuasai dan diperbudak oleh alam dan penjajah.
Warga yang kritis mampu bertindak adil, memberikan kontrol yang baik (check and balances terhadap negara dan pemerintahnya.
Rakyat yang cerdas dan berka rakter akan melakukan perubahan, inovasi, dan perbaikan masya rakatnya (ihsan) sehingga berdampak besar terhadap meningkatnya daya saing (competitiveness), produktifitas (productivity), dan kemuliaan (muruwah) bangsanya.
Maka adil dan ihsan menjadi “ketetapan Tuhan”, atau faktor yang menentukan kemajuan, kesejahteraan, dan kemuliaan sebuah bangsa sebuah hadist menyebutkan, seluruh makna taqwa yang menjadi derajat kemuliaan seseorang disimpulkan dalam ayat
“Sesungguhnya Allah memerintahkan akan Keadilan dan Ihsan (QS. anNahl-16: 90).
Kapitalisme, Musuh Terbesar Kemanusiaan. Sejak dulu, tantangan terbesar kemanusiaan adalah ketidakadilan; yang hadir dalam wajah kedhallman, kebatilan, keburukan, korupsi, eksploitasi, dan berbagai bentuk kejahatan yang membuat masyarakat bodoh dan miskin.
Semua jenis syirik ini, dalam konsep modern disebut kapitalisme akumulasi M Reyshahr 1996.
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Said Muniruddin

Comment