Kampus dan Masa Depan Bangsa

Universitas

Apa yang membuat Sebuah Bangsa Maju dan Sejahtera? Kemajuan suatu bangsa bukan pada luas wilayah atau jumlah penduduknya. Singapura hanya memiliki luas 710 km² dan berpenduduk 5 juta jiwa, tetapi sangat maju.

Cina yang areanya mencapai 9.7 juta km2 dan
berpenduduk lebih dari 1.3 milyar, juga tumbuh pesat. Kemajuan suatu bangsa juga bukan karena lokasi geografisnya. Norwegia, Swedia, Denmark dan Finlandia yang dingin membeku di kutub utara, tetapi menjadi sekumpulan negara skandinavia sejahtera.

Pun secara geologis, Jepang yang berada pada area gempa dan tsunami tercatat sebagai
negara yang mampu menge lola diri menjadi salah satu yang termakmur di Asia.

Sistem politik dan pemerintahan juga bisan faktor paling menentukan apun sistemnya; demokratis, otoriter, kerajaan, republik, sosialis, komunis, liberalis bukan faktor penentu. Rusia yang komunis adalah negara berpengaruh.

Amerika yang liberal merupakan adidaya. Malaysia dan Brunai Darussalam yang hak-hak politik rakyatnya tidak begitu mendapat ruang, adalah kerajaan sejahtera.

Sementara Indonesia yang dibelah khatulistiwa, negara ke-15 terluas dan berpenduduk ke-4 terbanyak di dunia, yang sudah lebih dari setengah abad mempraktikkan demokrasi pancasilanya, namun keadilan masih sebatas angan-angan di pembukaan UUD 1945.

Kemakmuran hanya milik para pemimpin dan
politisinya saja. Formalisasi agama dalam sistem negara, meski tidak ada larangan, juga
tidak menjamin kemajuan dan kesejahteraan. Menempelkan slogan “syari’ah”, “khilafah”, dan “negara Islam” pada papan nama sebuah negara tidak serta merta menjadi solusi keterbelakangan bangsa.

Republik Islam Pakistan misalnya, sudah berdiri sejak 1947, tapi masih berada pada rangking teratas negara-negara terkorup.’ Pertikaian internal Sunni Syiah di sana juga tidak jauh berbeda dengan realitas konflik suku-suku masa jahiliah.

Arab Saudi yang berkonstitusi Islam juga sama.
Meski kaya minyak, namun kestabilan ekonomi dan politiknya sedang diuji. Kekerasan pemerintah terhadap sebagian warganya, serta penghambaan diri pemimpin-pemimpin mereka kepada kepentingan kapitalisme dan sekutu-sekutunya, cepat atau lambat akan mendapat murka dari Tuhan Pemilik Ka’bah.

Jika kondisi “geografis”, “demografis”, “geologis”, dan “sistem pemerintahan” tidak menjadi determinant factor bagi kemajuan dan kemakmuran, lalu apa? Apakah karena sumberdaya alam-nya?

Ternyata, kecukupan sumberdaya alam juga tidak menjamin kesejahteraan, jika rakyatnya bodoh dan pemimpinnya dhalim. Negara-negara di Afrika menjadi contoh bagaimana mereka lapar dan miskin
ditengah kandungan alam yang berlebih.

Mereka punya emas dan intan; namun dikuasai “qarun-qarun” (korporasi) asing yang berkolaborasi dengan “firaun-firaun” (penguasa) lokal. Hal serupa terjadi di negara kita. Hasil bumi Indonesia melimpah.

Kandungan gas alamnya termasuk yang terbesar di dunia. Emasnya memiliki kualitas terbaik. Hutan tropisnya terbesar di dunia, dengan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah paling lengkap di dunia lautnya sangat luas, dengan jutaan spesies ikan yang tidak dipunya negara lain.

Tanahnya juga sangat subur, bahkan dengan potensi gunung apinya menyebabkan berbagai tanaman hidup sempurna. Demikan jug
Data korupsi tahun 2012 menunjukkan Pakistan menduduki peringkat 139 dari 176 negara, masuk kategori “sangat tinggi” tingkat korupsi.

Sementara menurut release tahunan lembaga Transparency International yang berpusat di Berlin-German tentang Corruption Perceptions Index (CPI), Indonesia masih berada pada ranking di atas seratus, atau “tinggi” tingkat korupsinya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Said Muniruddin

Comment