Teheran, Netral.co.id – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, akhirnya menyampaikan sikap resmi terkait peluang gencatan senjata di Timur Tengah. Di tengah konflik yang telah memasuki pekan kedua, Teheran mengajukan tiga syarat utama apabila Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump ingin kembali membuka jalur perundingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Rabu (11/3/2026). Percakapan ini menjadi komunikasi kedua antara kedua pemimpin dalam sepekan terakhir, yang menunjukkan meningkatnya koordinasi antara Teheran dan Moskow di tengah eskalasi konflik kawasan.
Hormati Kedaulatan dan Bayar Kerugian
Meski tetap bersikap keras, Pezeshkian memberi sinyal bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun ia menegaskan bahwa Iran tidak akan bersedia duduk di meja perundingan jika kedaulatan negaranya terus dilanggar.
Syarat pertama yang diajukan adalah penghormatan penuh terhadap kedaulatan wilayah Iran oleh Washington.
Syarat kedua tergolong lebih tegas. Teheran menuntut kompensasi atas kerusakan infrastruktur dan kerugian yang timbul akibat serangan gabungan yang disebut dilakukan oleh AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut disebut sebagai pemicu utama meluasnya konflik bersenjata di Timur Tengah yang hingga kini masih berlangsung.
Jaminan Tanpa Agresi
Adapun syarat ketiga yang disampaikan Teheran adalah adanya jaminan tertulis dari AS dan Israel bahwa serangan militer serupa tidak akan kembali terjadi di masa mendatang.
Mengutip laporan Al Jazeera, pemerintah Iran kini menunggu respons dari pihak lawan. Meski membuka ruang diplomasi, Pezeshkian secara terbuka mengakui bahwa pemerintahannya masih memandang dengan skeptis setiap komitmen yang datang dari Washington.
“Iran tidak memiliki alasan untuk mempercayai janji-janji Amerika,” tegasnya.
Situasi ini menempatkan keputusan penting di tangan Washington. Pertanyaannya kini, apakah Trump akan memilih jalur diplomasi dengan memenuhi tuntutan tersebut, atau justru membawa konflik menuju eskalasi yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.

Comment