Trump Ancam Balasan 20 Kali Lipat, Iran Bersiap Perang Total

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas setelah pemerintah Teheran secara tegas menutup peluang dialog dengan Washington. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan dengan AS tidak lagi menjadi bagian dari agenda negaranya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Foto: dok istimewa)

Teheran, Netral.co.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas setelah pemerintah Teheran secara tegas menutup peluang dialog dengan Washington. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan dengan AS tidak lagi menjadi bagian dari agenda negaranya.

Dalam wawancara dengan PBS News yang dikutip Rabu (11/3/2026), Araghchi menilai sejarah panjang konflik dan ketidakpercayaan terhadap Washington membuat upaya diplomasi menjadi tidak relevan.

“Tembakan terus berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menghujani mereka dengan rudal selama diperlukan. Berbicara dengan orang Amerika tidak lagi masuk dalam agenda kami,” tegas Araghchi.

Sentimen Ramadan Menguat

Sikap keras pemerintah Iran mendapat dukungan dari sebagian masyarakat. Di berbagai kota seperti Teheran, narasi perlawanan terhadap AS dan sekutunya semakin menguat, terutama di tengah momentum bulan suci Ramadan.

Di media sosial Iran beredar pesan yang menyatakan, “Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan.” Pesan tersebut merujuk pada dukungan terhadap pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, untuk membalas kematian para martir dalam konflik yang sedang berlangsung.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mencari gencatan senjata. Ia menilai kekuatan militer adalah satu-satunya bahasa yang dipahami oleh pihak yang dianggap agresor.

“Agresor harus dipukul mulutnya agar mendapat pelajaran. Mereka hanya menggunakan siklus ‘perang-negosiasi’ untuk mengonsolidasikan dominasi,” tulis Qalibaf melalui akun X miliknya.

Ancaman Trump

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tetap mempertahankan sikap keras terhadap Iran. Dalam konferensi pers di Florida, Trump berusaha menenangkan pasar global yang mulai terguncang akibat lonjakan harga minyak yang melampaui US$100 per barel.

Namun ia juga melontarkan ancaman keras jika Iran mencoba mengganggu pasokan energi dunia.

“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang pernah mereka alami sejauh ini,” tulis Trump di platform Truth Social.

Jalur Energi Dunia Terancam

Ketegangan geopolitik ini berdampak langsung pada jalur energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar 20 persen pasokan minyak dunia kini berada dalam tekanan setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan siap menghalangi pengiriman minyak dari kawasan tersebut selama konflik berlanjut.

Kekhawatiran juga disampaikan oleh CEO Saudi Aramco, Amin Nasser. Menurutnya, kapal-kapal tanker kini harus menghindari jalur Selat Hormuz dan mencari rute alternatif.

Meski jalur pipa alternatif telah dipacu hingga kapasitas maksimal sekitar 7 juta barel per hari, volume minyak yang tertahan tetap sangat besar.

“Situasi ini memblokir volume minyak yang cukup besar. Jika berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global akan sangat serius, terutama pada lonjakan harga bensin dan avtur,” ujar Nasser.

Di tengah eskalasi konflik tersebut, dunia kini menghadapi ketidakpastian besar, dengan stabilitas energi global dan perekonomian internasional berada dalam tekanan yang semakin berat.

Comment