Peluru di Zona Steril Grasberg
Pagi itu, Rabu, 11 Maret 2026, udara di lereng utara Grasberg masih dingin dan tipis. Di ketinggian Pegunungan Jayawijaya, aktivitas tambang milik PT Freeport Indonesia berjalan seperti biasa terukur, disiplin, dan diawasi ketat.
Sekitar pukul 08.30 WIT, Simson Mulia berdiri di bak sebuah mobil pikap operasional bernomor lambung LV-4446. Insinyur senior di Departemen Hidrologi itu tengah berada di kawasan Jayapura Lime Quarry, area pengolahan batu kapur yang terletak di sisi utara tambang Grasberg. Di kursi kemudi, rekannya, Abraham Marindal, bersiap menjalankan kendaraan.
Tak ada yang janggal hingga dua letusan senjata api memecah keheningan.
Abraham tercekat. Ketika menoleh, Simson sudah terjatuh. Darah mengalir dari kepalanya. Helm yang semula melindungi kepalanya terlepas. Dalam hitungan detik, rutinitas berubah menjadi kepanikan.
Ia segera meraih handy talkie, meminta bantuan. Di saat bersamaan, ia mencari perlindungan. Sumber tembakan tak terlihat.
Simson bukan pekerja sembarangan. Ia adalah bagian dari sistem yang menopang operasi tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia. Pagi itu, sebelum berangkat ke lokasi kerja, ia sempat menghubungi istrinya di Bandung. Percakapan singkat yang belakangan menjadi yang terakhir.
Menurut catatan perusahaan, Simson hendak memeriksa kondisi hidrologi di sekitar kawasan tambang terbuka Grasberg area yang sejak 2020 tak lagi dieksploitasi karena cadangan permukaan telah habis.
Namun yang terjadi di Jayapura Lime Quarry justru jauh dari rutinitas teknis.
Tak lama setelah panggilan darurat dikirim, personel Brimob bergerak menuju lokasi. Tapi situasi belum sepenuhnya aman. Setibanya di area tersebut, aparat mengaku kembali mendengar letusan senjata.
Brigjen Faizal Ramadhani dari Satgas Cartenz menyebut tembakan susulan itu mengarah ke posisi aparat. Dalam rekaman video yang beredar, sejumlah anggota Brimob terlihat berlindung di balik kendaraan dan bebatuan, mencoba mengidentifikasi arah serangan.
“Dari arah kita, jam 11,” terdengar suara dalam rekaman.
Namun hingga kini, rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Simson dievakuasi ke Rumah Sakit SOS di Tembagapura. Sekitar dua jam setelah kejadian, ia dinyatakan meninggal dunia. Polisi menyebut luka tembak berada di bagian telinga kiri.
Peristiwa ini meninggalkan satu saksi kunci: Abraham Marindal. Ia selamat, meski mengalami luka ringan dan trauma. Hingga kini, keterangannya belum sepenuhnya tergali.
Di sisi lain, pelaku penembakan masih menjadi misteri.
Padahal, lokasi kejadian bukan sembarang tempat.
Kawasan operasi PT Freeport Indonesia merupakan objek vital nasional. Akses masuk dibatasi ketat. Setiap orang wajib memiliki kartu identitas khusus atau izin resmi perusahaan.
Pengamanan dilakukan berlapis. Sedikitnya 1.600 personel gabungan TNI dan Polri ditempatkan di wilayah ini, termasuk ratusan anggota Brimob dalam Satgas Amole. Di luar itu, ratusan petugas keamanan internal dan kontraktor juga berjaga.
Setiap akses baik melalui jalur darat maupun kereta gantung dilengkapi pemeriksaan identitas.
Dengan sistem seperti itu, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana pelaku bisa masuk, menembak, lalu menghilang?
Ini bukan kejadian pertama.
Pada Maret 2020, seorang pekerja asal Selandia Baru, Graeme Thomas Wall, juga tewas ditembak di kawasan Kuala Kencana wilayah lain dalam kompleks Freeport yang sama-sama dijaga ketat.
Dua peristiwa dalam rentang waktu berbeda itu memperlihatkan pola yang belum sepenuhnya terjawab.
Biaya untuk menjaga kawasan ini tidak kecil. Sepanjang 2024, perusahaan menggelontorkan sekitar US$89 juta atau setara Rp1,5 triliun untuk pengamanan.
Sebagian dana tersebut dialokasikan untuk mendukung aparat negara baik dalam bentuk logistik, fasilitas, maupun tunjangan.
Namun besarnya anggaran tak serta-merta menjamin nihilnya celah.
Di Rumah Duka Santo Yusuf, Bandung, keluarga Simson masih mencoba memahami apa yang terjadi. Seorang kerabat menyebut peristiwa itu sebagai tragedi yang “dramatis dan mengejutkan.”
Duka itu kini berkelindan dengan pertanyaan.
Siapa pelaku penembakan? Bagaimana ia bisa menembus sistem pengamanan berlapis? Dan yang tak kalah penting: akankah semua ini terungkap di pengadilan?
Di jantung salah satu kawasan paling dijaga di Indonesia, dua peluru telah membuka lebih dari sekadar luka ia membuka keraguan.

Comment