Netral.co.id – Konflik antara Iran dengan blok Israel–Amerika Serikat semakin memanas setelah serangan udara besar-besaran menghantam ibu kota Iran, Teheran. Eskalasi konflik juga meluas ke sejumlah negara Teluk, sementara gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 100 dolar AS per barel.
Tekanan politik juga meningkat di Washington seiring meluasnya perang yang kini memasuki hari ke-14 sejak dimulai pada 28 Februari.
Pemimpin Tertinggi Iran Ancam Serangan Lanjutan
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pernyataan publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya yang terbunuh dalam konflik tersebut.
Ia memperingatkan bahwa Iran akan terus menyerang Israel serta aset militer Amerika di Timur Tengah jika pangkalan yang menampung pasukan AS di kawasan itu tidak ditutup.
Pernyataan tersebut menandai sikap keras Teheran di tengah meningkatnya serangan militer di kawasan.
Serangan Besar di Teheran
Militer Israel melancarkan gelombang serangan udara baru yang menghantam berbagai target di Teheran pada Jumat pagi. Serangan tersebut menyebabkan asap tebal menyelimuti sebagian wilayah ibu kota.
Menurut pernyataan Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, sedikitnya 1.348 warga sipil tewas sejak konflik meningkat. Korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi berusia delapan bulan hingga lansia berusia 88 tahun.
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Melonjak
Di tengah eskalasi konflik, Iran menutup Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Teheran menyatakan kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel dilarang melintasi jalur tersebut, sementara kapal lain harus memperoleh izin dari otoritas Iran.
Penutupan jalur strategis ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga melampaui 100 dolar AS per barel.
Serangan Balasan Iran di Negara Teluk
Sebagai bagian dari serangan balasan, Iran meluncurkan gelombang drone dan rudal ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika.
Di Bahrain, otoritas setempat melaporkan telah mencegat 114 rudal dan 190 drone sejak perang dimulai.
Sementara itu di Arab Saudi, sistem pertahanan udara menembak jatuh sedikitnya 38 drone yang melanggar wilayah udara negara tersebut.
Serangan juga dilaporkan menghantam sejumlah fasilitas di Uni Emirat Arab, termasuk area di sekitar Bandara Internasional Dubai dan beberapa hotel.
Evakuasi dan Penutupan Wilayah Udara
Sejumlah negara mulai melakukan langkah darurat untuk melindungi warganya.
Pemerintah Australia memerintahkan staf non-esensialnya meninggalkan Uni Emirat Arab dan Israel serta meminta warganya segera keluar dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Qatar menutup wilayah udaranya namun tetap mengoperasikan lebih dari 140 penerbangan khusus melalui Qatar Airways untuk mengevakuasi warga yang terjebak di kawasan tersebut.
Tekanan Politik di Washington
Di Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran berlangsung “sangat cepat” dan menegaskan kekuatan militer Amerika tetap unggul.
Namun di dalam negeri, tekanan politik mulai meningkat. Lebih dari 250 organisasi masyarakat sipil menandatangani surat yang mendesak Kongres menghentikan pendanaan perang.
Mereka menilai biaya konflik yang mencapai 11,3 miliar dolar AS dalam enam hari pertama telah mengalihkan anggaran dari kebutuhan domestik penting seperti bantuan pangan.
Konflik Berpotensi Berkepanjangan
Sementara itu, Senator Partai Republik Lindsey Graham menyatakan konflik kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Ia menilai pengerahan pasukan darat AS ke Iran belum diperlukan, namun perang dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Dengan eskalasi yang terus meluas di Timur Tengah serta gangguan terhadap jalur energi global, konflik ini kini dipandang sebagai salah satu krisis geopolitik paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
(Sumber: Al Jazeera)

Comment