Lebih dari 850 Tomahawk Ditembakkan, Cadangan Militer AS Terancam

Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan ratusan rudal jelajah Tomahawk dalam operasi militernya terkait konflik dengan Iran. Penggunaan senjata dalam jumlah besar tersebut disebut mulai menggerus cadangan militer AS, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Ilustrasi rudal jelajah Tomahawk milik AS. (Foto: dok)

Washington, Netral.co.idAmerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan ratusan rudal jelajah Tomahawk dalam operasi militernya terkait konflik dengan Iran. Penggunaan senjata dalam jumlah besar tersebut disebut mulai menggerus cadangan militer AS, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Laporan The Washington Post yang dirilis Jumat (26/3) menyebutkan, sejak awal operasi, lebih dari 850 rudal Tomahawk telah diluncurkan oleh militer AS.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa tingginya intensitas penggunaan rudal menjadi perhatian serius pejabat pertahanan, mengingat produksi Tomahawk setiap tahun hanya mencapai beberapa ratus unit.

Bahkan, salah satu sumber menyebut stok rudal yang tersisa di kawasan Timur Tengah saat ini berada pada level yang “sangat rendah dan mengkhawatirkan.”

Perdebatan Internal di Pentagon

Kondisi ini memicu perdebatan internal di kalangan pejabat Pentagon mengenai langkah lanjutan. Opsi yang dipertimbangkan antara lain memindahkan persediaan rudal dari wilayah lain seperti Indo-Pasifik, serta mempercepat produksi untuk menjaga kesiapan jangka panjang.

Meski demikian, Pentagon memastikan kesiapan militernya tetap terjaga. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa AS memiliki kapasitas penuh untuk menjalankan operasi militer.

“AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden,” ujarnya.

Eskalasi Konflik Meningkat

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Teheran pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Dampak ke Energi Global

Eskalasi konflik turut berdampak pada jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi rute utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia.

Gangguan operasional di jalur tersebut menyebabkan penurunan ekspor dan produksi energi, sekaligus mendorong kenaikan harga minyak di pasar global.

Comment