Gedung Putih Buka Opsi Bebankan Biaya Perang Iran kepada Negara Arab

Gedung Putih mengisyaratkan kemungkinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan meminta negara-negara Arab turut menanggung biaya perang melawan Iran yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

Gedung Putih AS. (Foto: dok)

Netral.co.idGedung Putih mengisyaratkan kemungkinan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan meminta negara-negara Arab turut menanggung biaya perang melawan Iran yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan opsi tersebut menjadi salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan Presiden. Pernyataan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan pembiayaan perang oleh sekutu regional.

“Saya rasa ini adalah sesuatu yang akan sangat menarik bagi presiden untuk meminta mereka melakukannya,” kata Leavitt, Senin.

Ia menambahkan, meski belum menjadi keputusan resmi, gagasan tersebut merupakan opsi yang kemungkinan akan kembali disampaikan oleh Trump dalam waktu dekat.

Langkah ini mengingatkan pada praktik serupa dalam Perang Teluk, ketika Amerika Serikat memimpin koalisi internasional untuk mengusir Irak dari Kuwait. Pada saat itu, negara-negara sekutu, termasuk di kawasan Arab serta Jerman dan Jepang, turut menanggung biaya perang dengan kontribusi mencapai 54 miliar dolar AS.

Namun, situasi saat ini berbeda. Operasi militer terhadap Iran disebut berlangsung tanpa keterlibatan formal koalisi internasional maupun dukungan terbuka dari negara-negara kawasan.

Di tengah konflik yang terus berlangsung, sejumlah pihak di Amerika Serikat juga mengemukakan skema pembiayaan alternatif. Komentator politik konservatif Sean Hannity, misalnya, mengusulkan agar Iran diwajibkan mengganti biaya perang melalui ekspor minyak.

Sebaliknya, pemerintah Iran menyatakan posisi berbeda. Teheran justru menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan militer yang mereka anggap sebagai agresi sepihak.

Konflik yang kini memasuki pekan kelima tersebut telah memicu eskalasi di kawasan Timur Tengah. Iran dilaporkan membalas serangan dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah target yang diklaim sebagai aset Amerika Serikat, meski serangan juga dilaporkan mengenai fasilitas sipil di beberapa negara Teluk.

Dari sisi pembiayaan, beban perang meningkat signifikan. Laporan media Amerika menyebutkan enam hari pertama operasi militer menelan biaya sekitar 11,3 miliar dolar AS. Sementara itu, Center for Strategic and International Studies memperkirakan angka tersebut naik menjadi 16,5 miliar dolar pada hari ke-12, dan terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.

Pemerintahan Trump juga telah mengajukan tambahan anggaran militer sedikitnya 200 miliar dolar AS kepada Kongres guna mendukung operasi serta mengisi kembali persediaan amunisi.

Di luar biaya langsung, dampak ekonomi global mulai terasa. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mendorong kenaikan harga energi dunia. Di dalam negeri Amerika Serikat, harga rata-rata bensin dilaporkan mencapai 3,99 dolar AS per galon, meningkat lebih dari satu dolar dibandingkan sebelum konflik.

Meski demikian, Gedung Putih menilai lonjakan tersebut bersifat sementara. Pemerintah berargumen bahwa tekanan jangka pendek akan diimbangi oleh manfaat strategis dalam melemahkan Iran.

“Ini adalah fluktuasi jangka pendek untuk manfaat jangka panjang,” ujar Leavitt.

Sementara itu, Iran tetap bersikukuh bahwa mereka tidak memulai konflik dan tidak menjadi ancaman bagi Amerika Serikat maupun kawasan, seraya menegaskan serangan balasan sebagai bentuk pertahanan diri.

Comment