Washington, Netral.co.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap proyeksi durasi operasi militer gabungan AS dan Israel di Iran yang diperkirakan berlangsung selama empat hingga lima pekan.
“Sejak awal, kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk berjalan jauh lebih lama dari itu,” ujar Trump seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (3/3/2026).
Trump tidak merinci tenggat waktu pasti berakhirnya operasi tersebut. Namun, ia mengklaim bahwa jalannya operasi militer berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal, terutama setelah sejumlah target utama disebut telah dilumpuhkan dalam gelombang serangan pertama.
“Kami jauh lebih cepat dari jadwal dalam hal itu,” tambahnya.
Dalam pidato video terbarunya, Trump menyatakan bahwa operasi tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap perkembangan program rudal balistik Iran yang dinilainya meningkat signifikan. Ia menyebut program tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan AS dan sekutunya.
“Program rudal balistik Iran tumbuh dengan cepat dan dramatis. Rezim tersebut sudah memiliki rudal yang mampu menjangkau Eropa dan pangkalan-pangkalan kami di luar negeri, dan segera akan memiliki rudal yang mampu menjangkau Amerika,” tegasnya.
Korban Jiwa di Sejumlah Negara
Di sisi lain, Trump mengakui kemungkinan bertambahnya korban dari pihak militer AS. Pentagon sebelumnya mengonfirmasi tewasnya tiga personel militer AS di Timur Tengah akibat serangan balasan Iran.
Berdasarkan laporan yang beredar, eskalasi konflik di kawasan telah menimbulkan ratusan korban jiwa di sejumlah negara. Data terbaru mencatat korban meninggal dunia sebagai berikut:
- Iran: 555 orang
- Lebanon: 13 orang
- Israel: 10 orang
- Uni Emirat Arab: 3 orang
- Irak: 2 orang
- Oman, Bahrain, dan Kuwait: masing-masing 1 orang
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang seiring meningkatnya intensitas konflik antara pihak-pihak yang terlibat.

Comment