Gaza, Netral.co.id – Di tengah kehancuran infrastruktur akibat konflik berkepanjangan, secercah harapan tumbuh melalui inisiatif literasi yang digagas dua pemuda Palestina. Omar Hamad, seorang penyair sekaligus apoteker asal Gaza, bersama rekannya Ibrahim, mendirikan Phoenix Library, perpustakaan publik yang lahir setelah dua tahun konflik menghancurkan sebagian besar sekolah dan universitas di wilayah tersebut.
Dikutip dari Chuffed.org, Minggu (22/2/2026), perpustakaan ini dibangun sebagai respons atas lumpuhnya sektor pendidikan dan terbatasnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan. Bagi Omar, membangun perpustakaan bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya menjaga identitas budaya dan ingatan kolektif Palestina.
Perpustakaan sebagai Ruang Aman
Di tengah kondisi darurat kemanusiaan, Phoenix Library dihadirkan sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan warga yang terdampak konflik. Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa pengetahuan dan literasi memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan sosial.
Omar, yang sejak kecil gemar mengoleksi buku, menyelamatkan sebagian koleksinya saat harus mengungsi dari satu wilayah ke wilayah lain, mulai dari Gaza City, Khan Younis, Rafah, Deir al-Balah, hingga Beit Hanoun. Buku-buku tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengungsiannya.
Dalam salah satu momen evakuasi darurat, ia bahkan meninggalkan pesan sederhana di antara buku-bukunya agar siapa pun yang menemukannya dapat menjaga koleksi tersebut.
Kolaborasi Literasi
Inisiatif ini turut diperkuat oleh Ibrahim, seorang pendidik dan penerjemah lulusan Universitas Al-Aqsa. Ia meyakini literasi sebagai sarana untuk menyuarakan pengalaman dan realitas masyarakat Gaza kepada dunia.
Menurutnya, Phoenix Library dirancang bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat kegiatan edukatif, diskusi, serta pelestarian budaya lokal. Perpustakaan ini juga diharapkan menjadi wadah bagi penulis dan seniman Gaza untuk tetap berkarya.
Dari Abu Menuju Kebangkitan
Nama Phoenix Library diambil dari simbol burung phoenix yang bangkit dari abu. Filosofi tersebut merepresentasikan tekad untuk membangun kembali ruang-ruang pendidikan di tengah keterbatasan.
Perpustakaan ini memiliki misi menyelamatkan buku-buku yang tersisa, menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, serta membantu memulihkan semangat masyarakat melalui akses pengetahuan.
Proyek ini kini berjalan melalui penggalangan dana global untuk mendukung pengadaan buku, fasilitas belajar, dan operasional perpustakaan. Para penggagasnya berharap dukungan internasional dapat membantu menjaga keberlangsungan ruang literasi tersebut.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, Phoenix Library menjadi salah satu inisiatif warga sipil yang berupaya mempertahankan akses pendidikan dan budaya sebagai bagian dari masa depan Gaza.

Comment