Belajar dari Lombok: Pendidikan yang Melampaui Ruang Kelas

Di tengah dunia yang kian terhubung namun sering kali terbelah oleh sekat identitas, ruang-ruang perjumpaan lintas budaya menjadi semakin penting. Program *Inbound Mobility* yang digelar di Lombok beberapa waktu lalu menghadirkan satu hal yang kerap luput dari perbincangan formal tentang pendidikan: pengalaman manusiawi dalam memahami perbedaan.

Mahasiswa dari berbagai kampus yang mengikuti Program *Inbound Mobility* yang digelar di Lombok. (Foto: Netral.co.id/M. Nasoha)

Lombok, Netral.co.id – Di tengah dunia yang kian terhubung namun sering kali terbelah oleh sekat identitas, ruang-ruang perjumpaan lintas budaya menjadi semakin penting. Program Inbound Mobility yang digelar di Lombok beberapa waktu lalu menghadirkan satu hal yang kerap luput dari perbincangan formal tentang pendidikan: pengalaman kemanusiaan dalam memahami perbedaan.

Keterlibatan sejumlah perguruan tinggi, seperti STKIP Yapis Dompu, Universitas Islam Al-Azhar Mataram, hingga Saito University College, menunjukkan bahwa kerja sama akademik tak lagi sekadar bertukar kurikulum atau metodologi. Ia telah berkembang menjadi medium untuk membangun jejaring sosial global yang lebih dalam dan berkelanjutan.

Namun, kekuatan utama program semacam ini justru tidak terletak pada ruang kelas, melainkan pada interaksi keseharian yang sederhana. Ketika peserta internasional diperkenalkan dengan tradisi Lebaran Ketupat, misalnya, yang terjadi bukan hanya pengenalan budaya, melainkan proses pemaknaan ulang tentang nilai kebersamaan. Tradisi itu menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan perspektif global.

Hal serupa tampak dalam momen berbagi makanan. Ketika mahasiswa mencicipi Nasi lemak yang disiapkan peserta dari Malaysia, relasi yang terbangun melampaui batas formalitas akademik. Makanan, dalam konteks ini, menjadi bahasa universal yang memperhalus perbedaan dan mempercepat kedekatan.

Pernyataan salah satu peserta, Muh Nasoha, yang menyebut pengalaman ini sebagai awal dari persahabatan dan perjalanan bersama, mencerminkan dimensi lain dari mobilitas akademik. Ia bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi sosial jangka panjang. Di sinilah letak nilai strategisnya: membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga adaptif dalam keberagaman.

Meski demikian, penting untuk melihat bahwa program semacam ini tidak boleh berhenti pada seremoni penutupan yang sarat simbol. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana jejaring yang telah terbentuk dapat dirawat dan ditransformasikan menjadi kerja sama konkret, baik dalam bidang riset, pengembangan kapasitas, maupun pertukaran berkelanjutan.

Dalam konteks global yang kerap diwarnai ketegangan geopolitik dan polarisasi identitas, inisiatif pendidikan lintas negara seperti ini menjadi semacam “diplomasi sunyi”. Ia bekerja tanpa retorika besar, tetapi berdampak pada pembentukan cara pandang yang lebih terbuka dan inklusif.

Lombok, dalam hal ini, tidak hanya menjadi lokasi kegiatan. Ia menjelma sebagai ruang simbolik di mana perbedaan dipertemukan, dipahami, dan dirayakan. Dari pulau ini, pesan sederhana namun penting kembali ditegaskan: bahwa masa depan kerja sama global tidak hanya dibangun di meja perundingan, melainkan juga dalam percakapan-percakapan kecil yang jujur dan setara.

Pada akhirnya, program seperti ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan semata soal transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun rasa saling percaya. Dan dari kepercayaan itulah, dunia yang lebih terhubung bukan sekadar secara teknologi, tetapi juga secara kemanusiaan dapat perlahan diwujudkan.

Comment