Netral.co.id – Ngabuburit menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Indonesia saat bulan Ramadhan. Istilah ini populer di wilayah Sunda dan merujuk pada kegiatan mengisi waktu menjelang azan Maghrib atau waktu berbuka puasa.
Seiring waktu, ngabuburit tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari budaya Ramadhan di berbagai daerah.
- Lebih dari Sekadar Menunggu Waktu
Di Indonesia, ngabuburit bukan sekadar aktivitas menunggu berbuka. Tradisi ini berkembang menjadi momen sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Di banyak kota seperti Bandung, Yogyakarta, hingga Makassar, masyarakat memanfaatkan sore hari dengan beragam kegiatan positif.
Mulai dari berjalan santai di taman kota, berburu takjil di pasar Ramadhan, mengikuti kajian di masjid, hingga berkumpul bersama keluarga dan sahabat.
Aktivitas ini mencerminkan karakter masyarakat Indonesia yang menjunjung kebersamaan.
- Dimensi Religius dan Sosial
Ngabuburit juga memiliki dimensi religius yang kuat. Banyak warga memanfaatkan waktu menjelang berbuka untuk tadarus Al-Qur’an, mengikuti ceramah singkat, atau memperbanyak doa.
Di sisi lain, pelaku UMKM turut merasakan dampak ekonomi dari tradisi ini melalui meningkatnya penjualan makanan dan minuman berbuka.
Fenomena pasar takjil yang ramai hampir di setiap sudut kota menjadi bukti bahwa ngabuburit juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal selama Ramadhan.
- Tantangan dan Adaptasi Zaman
Di era digital, pola ngabuburit ikut berubah. Generasi muda kini memanfaatkan media sosial untuk berbagi rekomendasi tempat berbuka, membuat konten kuliner, hingga melakukan siaran langsung aktivitas mereka.
Meski begitu, esensi ngabuburit sebagai momen kebersamaan dan refleksi diri tetap terjaga.
Yang perlu diperhatikan, masyarakat diimbau tetap menjaga ketertiban, keselamatan, serta tidak berlebihan dalam beraktivitas agar ibadah puasa tetap optimal.
- Tradisi yang Terus Bertahan
Ngabuburit telah menjadi bagian dari identitas Ramadhan di Indonesia. Perpaduan nilai budaya, religius, dan sosial menjadikan tradisi ini bukan sekadar kebiasaan musiman, melainkan warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dengan memilih aktivitas yang positif dan bermanfaat, ngabuburit dapat menjadi waktu yang produktif sekaligus memperkaya pengalaman spiritual selama bulan suci.

Comment